Langsung ke konten utama

BUNTA

Bunta. Nama sepotong wilayah di Sulawesi Tengah ini kerap saya dengar dari orang-orang tua di kampung, para eks-transmigran. 

Tahun ini, saya berkesempatan berkunjung ke Bunta. Menemani emak mertua yang ingin sekali bersua kerabatnya yang tinggal di sana.  

Kami berangkat dari Jembrana Bali pada tanggal 19 Juni 2026 (4 Muharram 1448 H), Jumat jam 3 dinihari. Kami putuskan berangkat di jam dan hari itu karena kapal yang akan membawa kami ke Sulawesi akan berangkat hari Sabtu pagi dari Surabaya. Rencananya, kami akan menginap satu malam di Surabaya. 

Kendaraan yang kami tumpangi dalam perjalanan kali ini adalah Toyota Inova keluaran 2014. Sebetulnya, jenis kendaraan macam ini kurang elok dibuat untuk perjalanan di daerah Indonesia timur yang terkenal bermedan ekstrem. Tetapi, pertimbangan kami hanyalah kenyamanan di dalam kabin, mengingat emak kami yang ikut serta. 

Kami tiba di Surabaya pada siang hari Jumat jam 13.30 wib. Kami menginap di hotel Kokoon di Jalan Selompretan. Tempat ini kami pilih karena lebih dekat menuju pelabuhan kapal. 

20 Juni 

Pagi hari setelah sarapan, kami meninggalkan penginapan dan bergegas menuju pelabuhan. Jam 8, kendaraan yang kami bawa  telah masuk ke perut kapal Dharma Kencana V.. Kami menempati ruangan kelas 2, di kamar 303. Tiket kapal untuk pelayaran kami dari Surabaya ke Donggala dan sebaliknya, telah kami booking tiga minggu sebelumnya. Kami berharap bisa dapat kelas VIP atau minimal kelas 1. Tetapi nihil. Tiket kelas VIP dan kelas 1 sudah lebih dulu ludes. 

Perjalanan ini akan memakan waktu dua hari dua malam. Kapal bersandar di Pelabuhan Semayang Balikpapan, dan setelah itu melanjutkan perjalanan ke Donggala. 

Di subuh hari pertama di kapal, aku bersembahyang di Musholla kapal. Karena datang lebih dulu, aku bisa berdiri di baris pertama. Musholla itu hanya sanggup menampung sekitar kira-kira empat puluh orang saja. Selebihnya, beberapa penumpang kapal lain yang hendak sembahyang, harus rela mengantre di luar musholla. 

Imam yang memimpin sholat subuh itu adalah seorang anak muda, berjaket putih dengan kepala yang ditutup oleh cungkup jaket. 

Bacaannya pelan sekali, iramanya mengingatkan saya pada bacaan Qori Hasbalah Muzammil dari Aceh itu. 

Sebetulnya, dengan keadaan demikian, bacaan imam haruslah cepat dan tidak boleh panjang-panjang, mengingat di belakang ada banyak orang yang mengantre untuk sholat gelombang berikutnya. 

Itulah subuh pertama dan terakhir saya sholat di mushola kapal. Besoknya, saya tidak pernah ikut sholat di musholla. 

21 Juni

Jam 19.15, aku naik ke lantai paling atas kapal. Dari jauh sudah tampak daratan Kalimantan. Lampu-lampu berkelip dan ada dua cerobong yang mengeluarkan api dari mulutnya. Cerobong dan nyala api itu seperti menuding wajah langit yang gelap. 

Sekira jam 10 malam kapal sandar di Balikpapan. Dua jam kemudian, kapal menjauh dari Balikpapan menuju Donggala. 

22  Juni

Kapal berlabuh di Donggala pada jam 14.30 siang. Manusia dan kendaraan sama-sama keluar dari perut Dharma Kencana V.  

Ini kali pertama kami ke Sulawesi. 

Kendaraan kupacu di atas aspal hendak menuju Kota Palu, mengitari Teluk Palu yang membentuk huruf "U". Ada satu pemandangan yang kurang nyaman terlihat di Donggala. Sebagian bukit-bukitnya yang tegak berdiri menghadap laut, tampak compang camping dihajar alat berat. 

Truk-truk besar hilir mudik mengangkut material dari lereng bukit ke tepi Teluk Palu. Debu-debu berhamburan, membuat siapa saja para pengendara motor yang melintas di situ harus siap-siap terbatuk-batuk jika tidak mengenakan masker.  

Selepas pemandangan bukit-bukit yang menyedihkan tadi, kami berhenti di tepi jalan, di depan hotel Swiss Bell inn. Di seberang hotel itu ada warung lalapan Surabaya. Kesitulah kami makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan. 

Rencananya, kami akan melanjutkan perjalanan sore itu. Yang paling mungkin adalah menginap di daerah Parigi, agar besok harinya kami bisa melanjutkan perjalanan. 

Kendaraan kami melintas di Pantai Talise. Di wilayah yang dulu di tahun 2018 pernah dihajar tsunami. Masih tampak di tepi laut, sebuah bangunan masjid yang sudah tidak difungsikan, masjid apung sisa-sisa tsunami. 

Sebetulnya Aku hendak menghentikan kendaraan sejenak di jalan, lalu dengan bebas bisa mengambil foto di pantai ini. Namun, karena jalan ini terbilang jalur lintas dan banyak kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi, jadi kuurungkan niatku untuk berhenti. 

Kendaraan kami melintas di pinggiran Kota Palu. Setelah tiba di sebuah pertigaan, kami belok kanan, menuju jalan menanjak, melewati kebun kopi dengan pemandangan alam yang bagus di senja itu.

Jalanan macam ini mengingatkan kami akan jalan-jalan trans-Flores antara Ende- Maumere -Larantuka yang kami lalui setahun silam.  

Saat matahari kian condong ke barat, tibalah kami di Toboli. 

Di kiri kanan jalan, banyak terdapat warung-warung makan. Ada satu jenis penganan yang menarik perhatian kami. Beberapa pedagang tampak sedang memanggang penganan berbungkus daun pisang. 

Kami menepi sejenak.  Menyinggahi sebuah warung dan membeli penganan yang bikin penasaran itu. Ternyata itu makanan sejenis lemper. Berbahan ketan dengan campuran abon ikan laut (bukan ayam suir atau daging sapi). 

Belakangan  Aku tahu nama makanan ini: Lalampa. Aku sangat menggemarinya. Yang lain tidak begitu suka. Di dalam mobil, kuhabiskan tiga potong. Enak sekali.  Dimakan hangat-hangat. Ada aroma daun pisang yang terbakar. 

Dari Toboli kami menuju Parigi. Malam pun tiba. Suara azan maghrib terdengar. 

Kami mencari sebuah penginapan di jantung Kota Parigi. Kami menginap di sebuah hotel melati. Namanya Hotel Oktaria. 

Sepertinya, kota Parigi ini adalah kota yang baru terbentuk. Jalanan kotanya tidak ramai. Bahkan cenderung mati di malam hari. Tak jauh bersandingan dengan hotel tempat kami menginap, ada sebuah cafe tempat anak-anak Gen-Z berkumpul membunuh waktu senggang mereka.  

Di sini, kami akan menginap satu malam saja. Keesokan pagi kami akan lanjutkan perjalnan ke Nuhon, Bunta.  

23 Juni

Kami meninggalkan hotel kecil itu setelah sarapan pagi.

Sudah sejak dari Parigi, kami melihat beberapa pedagang durian pinggir jalan. Akan semakin banyak kami jumpai saat melintas di Poso. 

Pemandangan yang menarik di sepanjang Parigi hingga Poso, tentu saja, karena banyaknya Penjor yang berdiri seolah menyambut kedatangan kami. Kebetulan, kami berangkat ke Sulawesi selepas Galungan. Jadi, aroma Galungan masih terasa jika kita berada di sebuah daerah yang banyak dihuni warga Hindu.

Dapat dikatakan, sebagian besar warga transmigran di Parigi berasal dari Bali. Mereka tinggal di sepanjang jalan trans Sulawesi, dengan kekayaan berupa kebun-kebun dan sawah yang luas. Kemungkinan mereka juga sudah membentuk bank-bank perkreditan di wilayah itu, sebagai wadah simpan pinjam, guna menunjang aktivitas ekonomi sesama mereka.

Di sebuah titik jalan di Poso, kami terpaksa berhenti karena tergoda oleh pemandangan buah-buah durian lokal yang  seolah-olah memanggil-manggil kami. 

Harga durian sangat murah. Dengan uang 50.000 saja, kita sudah dapat satu gancet berisi empat buah.

Jam 10.30, kami telah mencapai Kota Poso. 

Kota ini tentu bukan nama asing di telinga. Dahulu, antara tahun 1998 hingga 2001, di Poso meledak konflik sara antara umat Kristiani dan Muslim. Konflik berdarah itu merobek-robek jalinan sosial masyarakat yang sudah lama terjalin. Konflik ini dapat dikatakan sebagai imbas dari melemahnya cengkraman kekuasaan Orde Baru Suharto di satu sisi, dan meningkatnya sektarianisme antar golongan yang sudah lama terkotak-kotak. 

Aku punya kenalan kawan kuliah dari Poso. Dia aktivis perdamaian di Poso. Tesis Pasca-sarjananya membahas tentang proses-proses perdamaian di Poso pasca konflik. 

Tapi tidak usah Aku cari dia. Sebab, Aku sendiri sudah lama tidak bersua dengannya.   

Lepas dari Poso, kami memasuki Kabupaten Tojo Una-una, disingkat Touna. Agak asing nama ini. Kabupaten ini rupanya merupakan kabupaten pemekaran dari Poso.

Di tempat inilah, di tepi pantai Teluk Tomini, jalan trans Sulawesi Padapu, kami berhenti di sebuah rumah makan sederhana: Rumah Makan Touna Indah Padapu. 

Menu utama ikan Laut. Orang setempat menyebutnya Ikan Batu. Mungkin maksudnya, ikan yang hidup di batu-batu karang. 

Rumah makan ini sederhana tapi indah. Sesuai namanya. Pemandangan pantainya sangatlah menawan hati, memanjakan mata. Dari atas bangunan panggung kayu rumah makan itu, jika kita menoleh ke bawah, terlihat air laut yang jernih dan ombak yang berdesir halus.    

Aku harus mengambil video atau foto pemandangan tepi pantai, sambil menunggu hidangan makan siang datang. 

Setengah jam kemudian, makanan tersaji. Menu ikan batu. Semacam menu lalapan di Jawa. Yang mengejutkan adalah porsi nasinya yang banyak sekali.  

Masing-masing mendapat satu bakul kecil. Perutku tentu tak bakal sanggup menghabiskan nasi sebakul kecil itu. Apalagi anak-anak. Ditambah lagi, kualitet berasnya buruk sekali. Keras, pejal dan tidak putih. Biasa disebut raskin.  

Ikan lautnya segar. Sambalnya juga. Rasa yang beda ditimbulkan oleh penggunaan minyak goreng kelapa, bukan sawit, untuk menggoreng ikan. 

Lidah kami sudah terlanjur terbiasa dilumas minyak goreng sawit. Begitu bertemu minyak kelapa, terasa aneh juga. 

Harga makanan  tidak mahal. Standar saja. 

Usai santap siang, kami melanjutkan perjalanan dengan target harus sampai tujuan hari itu juga.

Kota Ampana sudah terlewati. Sebuah kota kecil yang sedang tumbuh. Ada bandara kapal udara di tepi jalan raya utamanya. Aku juga menyaksikan beberapa hotel penginapan di kota itu. 

Matahari kian condong ke barat. Kendaraan kami melaju ke timur. Itu artinya, kami akan menjumpai petang lebih cepat. Kerabat di lokasi transmigrasi beberapa kali mengontak, menanyakan posisi kami sudah sampai dimana. 

Tepat menjelang senja, kami tiba di Nuhon. Dari jalan raya TransSulawesi, kendaraan belok kanan, menuju lokasi yang telah ditentukan koordinatnya oleh google map. 

Kerabat telah menunggu di muka rumah. Mereka menyambut dengan gembira. Antara percaya dan tidak bahwa kami akhirnya akan tiba di sana, setelah sekian tahun mengeram janji untuk berkunjung ke tempat ini. 

Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Sebuah rumah besar, dengan anggota keluarga besar, dengan dua orang sepuh yang masih hidup; Wak Sapari dan isterinya. Dia adalah paman dari ibu mertuaku. 

Wak Sapari (kami menyebutnya Datuk Sapari) meninggalkan Bali di tahun 1982. Pernah beberapa kali pulang ke Bali. Setelah memasuki usia senja, dia tak pernah menginjakkan kaki lagi di Bali. 

Kini ia telah beranak pinak. 

Di ruang tamu rumahnya yang besar, beberapa orang datang mengerubungi kami. Saling bercerita panjang-panjang, hingga tak terasa waktu telah malam. 

Malam itu, kami disuguhi makan malam istimewa. Menu ala kampung, sayur roroban. Ini sayur lodeh yang berkuah santan. Menu ini sudah dipesan jauh-jauh waktu sebelum kami tiba di Nuhon. 

Kami berencana menginap hanya dua malam. Di pekarangan itu terdapat dua rumah; rumah tua dan rumah besar baru tempat kami diinapkan. Rumah baru ini belum seratus persen jadi. Belum ada plafon atap. Dindingnya juga belum dikuliti. Masih tampak material dinding dari batako.  

Hawa terasa dingin di awal kemarau. Kami tertidur lelap setelah lelah mendengar percakapan antara ibu mertua dan kerabatnya. 

24 Juni

Aku terbangun lebih dulu dari yang lain. Jam 4 dinihari. Aku berniat akan sholat subuh di masjid tak jauh dari rumah itu. Hanya empat puluh langkah jaraknya. Sebuah masjid dengan bangunan model lama. Bentuk atap berupa meru tiga undakan. Seperti masjid-masjid di Jawa. 

Masjid lama yang dibangun para transmigran ini tak akan bertahan lama. Di sebelahnya sudah dibangun fondasi dan pilar-pilar bakal masjid yang jauh lebih besar, lebih kokoh dan berlantai dua. 

Nasib kebanyakan bangunan masjid di lokasi trans itu hampir sama. Bangunan-bangunan lama akan berganti bangunan baru. Lebih besar. Berlantai dua tentu saja. 

Itu saya saksikan saat perjalanan dari Nuhon ke Bunta sejauh delapan belas kilometer. 

Jam 10 pagi, Aku berdua dengan Isteriku, menyusuri jalanan menuju Bunta melalui jalur dalam. Tujuan kami hendak ke rumah Bang Wik Sapari di SPC Bunta, lokasi yang menjadi tempat tinggal banyak tetangga kami di Bali. 

Wik tinggal bersama isteri anak dan mertuanya. Dia kini jadi pengusaha material batako dan buis. Dia juga punya toko kelontong di pinggir jalan. 

Daerah inilah yang banyak diceritakan oleh sesepuh kami, Datuk Haji Sulaimi Nur. Beliau pernah tinggal selama dua belas tahun di sini. Seorang anak perempuannya masih tinggal disini. Sudah bersuami dan beranak. Seoran lagi anak perempuannya tinggal di Parigi. Dan satu lagi seorang anak lelakinya bernama Ahmad Syahid, menjadi dosen di UIN Palu.

Kami tidak berlama-lama di rumah Bang Wik. Yang penting sudah bersua, berfoto. Buat modal cerita kalau sudah kembali ke Bali. 

Lantas Aku dan isteriku kembali ke Nuhon. Kali ini kami lewat di jalan trans-Sulawesi, sambil melihat dari dekat Kota kecil Bunta.

Pada sore hari, Aku meminjam sepeda motor. Kami berempat berangkat mencari aliran sungai. Sungai-sungai di sini airnya amat jernih. Sayang jika dilewatkan tanpa mandi-mandi. Maka, sore itu kami pergi ke sungai. 

Aku membuka baju dan berendam. Air jernih dan dingin. Ingin sekali kami berlama-lama di sungai. Waktu yang hampir petang membuat kami bergegas kembali pulang. 

25 Juni

Setelah sarapan. Kami berpamitan. Entah kapan lagi akan kembali ke sini. Tangis kerabat kami pecah. Antara bahagia dan sedih. Dua malam itu terasa singkat sekali tentu. 

Kami akan meneruskan perjalanan ke timur, ke Kota Luwuk. Jaraknya dari Nuhon sekira 150 kilometer. Ditempuh lima jam saja. 

Di Luwuk, kami akan menginap dua malam. Isteri, mertua dan anak-anak akan naik boat ke Pulau Banggai. Ingin melihat Danau Paisu Pok yang terkenal itu. Kami juga akan bertemu Bang Karim, salah seorang kerabat yang jadi menejer sebuah resto di tepi pantai Kota Luwuk. Ayah Bang Karim, Datuk Suhairi, adalah sesepuh kami di Bali.

Jam 11 siang, kami tiba di Kota Luwuk setelah melintasi jalanan terjal bukit Salodik. Kami membooking penginapan Hotel Santika Luwuk. Jam check ini jam 2 siang. Sebelum jam dua, kami singgah di sebuah kedai tepi pantai yang menjual kelapa muda. Menikmati kelapa muda, semilir angin dan indahnya pantai Kota Luwuk. 

Pada malam harinya, kira-kira selepas isya', kami meninggalkan penginapan dan menuju Deco Resto tempat Bang Karim bekerja. 

Deco Resto terletak di tepi pantai, setelah melewati pasar tradisional Simpong.  Pasar Simpong sendiri adalah pasar besar yang terus bergerak tanpa henti.

Kami bergembira setelah bersua Bang Karim. Di Resto ini, kami makan malam. 

Jam 9 malam, kami kembali ke penginapan, meninggalkan Bang Karim dan pekerjaannya. 


26 Juni

Pagi hari, isteriku, mertua dan anak-anak melancong naik boat ke Paisu Pok. Aku tinggal sendiri di penginapan. Aku memang tidak tertarik menjelajah tempat-tempat wisata yang terlalu populer. Aku lebih suka blusukan ke kampung-kampung, naik angkutan umum kota, melihat-lihat keramaian kota, singgah di sebuah masjid, atau musholla, atau ke pasar tradisional melihat keramaian manusia. Atau duduk di sebuah kedai kecil. 

Akan tetapi, pagi itu, badanku terasa kurang sehat. Aku diare dan agak demam. Jadi, Aku tidak bisa ke mana-mana sebagaimana yang kurencanakan sendiri. Aku meringkuk di kamar hotel. Sementara isteriku dan anak-anak akan kembali sore hari dari perjalanan ke Paisu Pok.

Mag-ku kambuh. Mungkin terlalu banyak makan yang bersantan di Nuhon kemarin.  

Aku pesan makan siang di hotel. Menu telur dadar dan kecap. 

Tenagaku terasa tak kunjung pulih.  

Ketika anak-anak dan isteriku kembali, Aku beritahu mereka bahwa besok Aku tidak sanggup menyetir mobil sendiri untuk menempuh jarak 600 kilometer dari Luwuk ke Palu. 

Maka kami kontak Bang Karim untuk mencarikan sopir. 

27 Juni

Sarapan terasa kurang enak. Bukan karena menunya. Melainkan karena lidahku yang terasa pahit dan berusaha menghindari makanan macam-macam.

Pagi itu, di lobi hotel, seorang anak muda memperkenalkan dirinya bernama Andik. Sopir kami yang akan mengantar ke Palu. 

Ibu mertua tidak ikut serta. Dia menunggu adik iparku yang akan menjemputnya dengan pesawat dari Makassar. Dari Luwuk kembali ke Makassar dan lalu terbang ke Bali. Ini demi menjaga kondisinya supaya tetap baik. Mengingat perjalanan darat yang kembali akan kami tempuh cukup jauh.  

Jam 7.30 kami berkemas dan segera berangkat. Singgah sebentar di sebuah apotik untuk cari obat diare. 

Andik, sopir muda ini cukup berpengalaman. Menguasai medan dan setiap inci jalan trans-Sulawesi. Dia tak banyak bicara. Dia tahu banyak hal jika ditanya. Maklum, dia adalah salah satu sopir travel yang hampir setiap hari beredar di jalan antara Luwuk-Palu hingga Makassar. Dia berasal dari Morowali. Isterinya orang Banggai dan tinggal di Luwuk. 

Dia meminta tarif ongkos Rp. 800.000 untuk mengantar kami dari Luwuk hingga Palu. Kami juga memberinya uang makan dan uang rokok cuma-cuma. 

Perhentian pertama jam 10-an di sebuah warung makan dekat gerbang Pelabuhan Pagimana. Hanya sopir yang butuh sarapan dan merokok. Kami sendiri sudah sarapan di hotel. 

Pada sekitar jam 12 siang, kami melewati Bunta dan gerbang stile Bali di Nuhon, gerbang masuk menuju rumah Datuk Sapari. Aku sengaja memvideo-kan momen sederhana ini. Kami sendiri tidak berniat untuk singgah lagi, demi menghemat waktu perjalanan.     

Di Ampana, kami berhenti untuk makan siang di sebuah warung makan yang menjual ikan bakar. Kondisi kesehatanku yang kurang fit membuat makan siang itu terasa sia-sia. Selain diare yang belum sembuh, mulutku dihantam sariawan akut, sehingga susah buat mengunyah makanan. Ini pertanda imun tubuh sedang labil.  

Perjalanan dilanjutkan. Aku berusaha agar bisa tertidur barang sejenak. Tetapi, entah, Aku susah sekali lelap. 

Sore hari, kami telah mencapai Kota Poso. "Selamat Datang di Poso Madago-Dago Pomberata" tulis sebuah plakat di jalan kota Poso. Entah apa arti kata itu. 

Di sebuah masjid musafir kami berhenti, sholat dan mandi seperlunya. Lepas itu, kami antar Nisa ke dokter gigi untuk membongkar tambalan giginya yang rusak.

Si Sopir masih tampak bugar. Tak terlihat letih. 

Memasuki kota Parigi, malam telah datang. Kami berhenti di sebuah warung makan di pertigaan Toboli. Warung makan ini sangat ramai. Ada Lalampa hangat. Tetapi  Aku tak punya selera untuk memakannya. Aku paksakan diriku untuk menghabiskan setengah piring saja nasi makan malam itu. 

Malam benar-benar gulita saat kami melintas di jalur ekstrem berliku perbukitan Kebun Kopi. Di puncak, kabut tebal membatasi pandangan kami sehingga sopir harus sangat hati-hati melaju. Salah sedikit bisa-bisa terjadi aksiden; tabrakan atau tergelincir ke tebing curam...!!! Sangat berbahaya melintas malam hari di jalur ini. 

Barangkali karena terlalu lelah, Aku sempat terpejam beberapa saat. Ketika mataku terbuka, kami sudah mendekati Kota Palu. Jarum jam menunjuk pukul 12 malam ketika kami tiba di penginapan, lagi-lagi di Hotel Santika Kota Palu. 

Andik mengantar kami hingga di parkiran. Setelah menerima ongkos, kami meninggalkannya. Dia sendiri akan dijemput rekannya, kemudian balik ke Luwuk esok hari.

28 Juni

Sebetulnya, Aku punya agenda pribadi di Kota Palu. Jalan-jalan menyusuri kota. Melihat dari dekat sisa-sisa lokasi bencana likuifaksi di Patobo dan Balaroa. Ke Pantai Talise. Berziarah ke makam Datokarama. Singgah ke pemakaman umum Talise untuk mencari makam dosenku, Pak George Junus Aditjondro. 

Namun, sayang, di pagi hari itu, Aku tidak bisa kemana-mana. Kecuali harus ke rumah sakit untuk berobat. 

Satu-satunya rumah sakit terdekat dari hotel tempat kami menginap adalah Rumah Sakit Woodward atau disebut juga Rumah Sakit Bala Keselamatan. 

Pagi sekali, Aku diantar isteriku dengan grab menuju rumah sakit ini. Tak kuduga, ini adalah rumah sakit tempat Pak George Aditjondro menghembuskan nafas terakhirnya beberapa tahun silam. 

Di ruang UGD rumah sakit inilah Aku berbaring dan diinfus. Petugas RS memintaku untuk menginap tiga malam. Namun, mengingat kami hanya pengembara yang melintas dan esok hari harus ke Pelabuhan Donggala, maka kuputuskan hanya sehari itu saja. Sekedar memulihkan tenaga dan mengobati sariawan yang akut. 

Jam 2 siang, setelah satu kantong infus habis, badan terasa lebih bugar. Kami pun meninggalkan rumah sakit menuju hotel naik grab dengan ongkos hanya dua puluh ribu.   


 

 

  


 

  

  


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Labuan Bajo

       Entah darimana isteriku dapat wangsit. T iba-tiba dia membuat rencana hendak   bepergian jauh: ke Labuan Bajo. Niatnya ini dia utarakan padaku, kira-kira tiga bulan sebelum keberangkatan kami.; “Kita akan ke Labuan Bajo   di musim liburan anak-anak nanti.” Tekadnya untuk pergi kian bulat, sebulat telur penyu. Dia rajin melihat review-review di kanal youtube dan medsos lainnya untuk mendapatkan kiat-kiat menempuh perjalanan jauh itu. Aku sendiri tidak pernah terpikir akan jalan-jalan ke sana. Jangankan ke Labuan Bajo, ke pulau tetangga (Sumbawa) saja saya belum pernah injakkan kaki. Sejauh ini, pemandangan di wilayah bagian timur Indonesia hanya saya saksikan secara intens dari menonton film-film Ekspedisi Indonesia Biru garapan dua jurnalis, Bung Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz alias Ucok.  Keduanya melakukan perjalanan keliling Nusantara di tahun 2015 silam dengan honda bebek. Hasilnya luar biasa:  gambar-gambar video yang kemudia...

Larantuka

Plakat Istana Larantuka / foto sam Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk sampai ke Ende. Pertama, dengan kapal laut yang bertolak dari Surabaya. Kedua, dengan kapal laut yang sama yang bertolak dari Lombok.  Keduanya sama-sama pilihan yang ambigu.  Setelah berdiskusi, akhirnya kami ambil opsi kedua; bertolak dari Gilimas Lombok. Itu artinya, kami harus menyeberang ke Lombok dulu dari Padangbay menuju Lembar. 10 Juni Perjalanan dari rumah kami di Jembrana Bali, dimulai pada jam 2 siang, tanggal 10 Juni 2025, hari Selasa, bertepatan tanggal 14 Dzulhijjah 1446 tahun hijriyah.  Kendaraan masih Toyota Rush Konde legendaris yang sudah hampir dua belas tahun menemani perjalanan kami.  Persiapan terkait kendaraan ini sudah Aku cukupi. Mulai dari servis berkala, penggantian oli mesin, ganti bearings (klaher) di bagian roda depan kiri, perbaikan seal rem yang rusak, hingga penggantian empat buah ban roda.  Kali ini Aku coba pakai GT Savero untuk mengganti merk ban asli D...

Dari Gresik Sampai Tuban, Jalan-jalan Jelang Lebaran

Pukul 23.00, bus yang membawa saya dari Jogja tiba di Surabaya. Arus mudik di jalur bagian tengah pulau Jawa tidak terlalu besar. Jarang sekali saya jumpai kemacetan. Perjalanan ditempuh menurut lama waktu normal; 8 jam. Di Surabaya, saya dan kawan Tatok, seorang kawan lama yang bersama saya dalam perjalanan mudik ini, menginap di sebuah asrama di belakang kampus IAIN Ampel. Saya hanya sempat beristirahat 4 jam, sebelum pada jam 7 keesokan paginya, saya dan kawan Tatok melanjutkan perjalanan ke barat menuju kota Gresik. Jalan-jalan di pasar Gresik Kebetulan kawan Tatok dititipi pesan seorang sepupunya yang tengah nyidam pudak. Dia diminta untuk membeli pudak, sejenis penganan khas kota Gresik. Konon, kata saudara sepupu kawan Tatok, di usia kehamilan yang baru menginjak beberapa hari, dia selalu membayangkan pudak. Maklum, orang nyidam punya keinginan yang aneh-aneh. Jadilah kami mampir di pasar Gresik untuk membeli pudak. Tiga hari menjelang lebaran, keadaan di pasar Gresik sangat ram...