Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Kecil

Hasil Jepretanku

                                                                                                                                                                                                                                                          ...

Koja

Kemarin siang, saya berada lebih lama di hadapan layar televisi, setelah mengetahui bahwa ternyata bentrok yang terjadi di sekitaran komplek makam Habib Husen bin Muhammad Al Haddad alias Mbah Priok, Tanjung Priok, Koja, Jakarta Utara, adalah bentrok massal yang berdarah-darah. Tiga orang tewas, ratusan luka-luka, berat dan ringan. Ada gambar lelaki dihujam bogem, dipukul pentungan, dilempari batu, ada kepala yang berlumur darah, anak usia remaja yang diseret, tubuh tak berdaya dikirimi tendangan di kepala dan timbukan pecahan beton.. mobil-mobil dibakar,, dan asap hitam menyemburkan kengerian.. Ini kekerasan yang paling heboh yang pernah saya saksikan tahun ini.. Anggota Sat Pol PP yang bergerak atas nama pihak berkepentingan didukung legalitas hukum, bentrok dengan penduduk yang percaya bahwa situs makam Mbah Priok tidak boleh digusur, apalagi dicaplok hak kepemilikannya atas lahan tersebut. Makam bukan sekedar tempat peristirahatan orang-orang yang sudah tiada. Makam adalah juga s...

Seekor Tikus Kecil Musuhku

Di kamarku yang sempit, aku punya musuh: seekor tikus mungil. Saban waktu, tikus kecil itu masuk dengan menyelinap lewat lubang jendela, atau dari bawah sofa, kemudian bersembunyi untuk beberapa lama di balik lemari baju. Terkadang, tanpa malu-malu, tikus kecil itu lewat begitu saja ketika aku tengah asyik menghadap televisi, atau saat aku tengah menenggelamkan kepala di hadapan sebuah buku. Sepertinya ia paham dengan bahasa tubuhku. Ketika aku tolehkan pandangan ke arahnya, ia akan berpura-pura berhenti atau mempercepat lari. Aku tidak tahu apa yang tikus kecil itu lakukan di kamarku. Dan aku tidak tahu apakah dia sendirian atau lebih dari satu. Aku tak pernah berhasil mengidentifikasi bentuk tubuhnya, atau ciri-ciri khusus yang dimiliki tikus kecil itu untuk dapat mengetahui apakah dia sendiri atau lebih dari satu. Tikus kecil itu telah membuatku jengkel dari sejak pertama aku melihatnya. Aku seperti mendapat ejekan dari setiap tingkahnya. Lebih-lebih karena dia andil dalam membuat k...

Gmail yang Bikin Juteg

Seorang kawan hendak berkirim surat info penting dan meminta alamat email. Lalu saya berikan alamat gmail (google mail) saya. Hari ini, Senin (22 Feb 2010) pagi, sebenarnya mulai tadi malam, saya mengecek email dan sudah ada empat email yang masuk dari kawan saya. “confidential” isi email ini tentu ingin segera saya ketahui. Isinya sudah pasti menarik. Tetapi saya dibikin kesal dan jengkel lantaran inbox gmail saya tidak dapat dibuka. Hmm.. mula-mula saya menduga pasti ada gangguan jaringan untuk gmail sendiri. Sebab facebook dan yahoomail milik saya nyatanya tetap dapat berfungsi. Tetapi setelah semalaman, keesokan pagi, tetap saja inbox di gmail tidak mau dibuka. Warningnya berbunyi “Error -- some gmail features have failed to load due to an internet connectivity problem. If this problem persist, try reloading the page, using the older version, or using basic HTML mode. Learn more.” "due to internet connectivity?? So far, gak ada masalah dengan jaringan internet di tempat say...

Sape Ampenan sebuah “Film Penerangan”

Saya mengakhiri jalan-jalan akhir pekan di Lombok dengan menonton film semi dokumenter ”Sape Ampenan Satu Cinta” di Kantor Kesbang Linmas Mataram, Minggu (20/12/09) malam. Sebelumnya, niat menonton film itu tidak direncanakan, kecuali setelah masuk pesan singkat ke ponsel rekan saya, dan rekan saya membacakan pesan itu yang berisi informasi permintaan hadir dalam acara nonton bareng tersebut. Film berdurasi kurang dari 1 jam itu bercerita tentang seorang pengelana, yang melakukan "le grande voyage" dari ujung barat Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ampenan, hingga di ujung timur, di Sape, Kabupaten Bima. Plot di dalam cerita sengaja tidak dibuat saling berkait, namun tetap diusahakan untuk saling mengikat sesuai tema besarnya sebagai ”Film Perekat Kesatuan”. Masing-masing membentuk narasi sendiri-sendiri; siswa sekolah bernama Sasak, dan Putri Samawa, Pengelana, seorang mahasiswa cantik yang sedang melakukan perjalanan penelitian, pedagang lintas pulau, seorang ibu yan...

rendra

Saya sudah lama mengenal Rendra, sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, lewat buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Dan Ayah saya memberitahu julukan penyair itu "Si Burung Merak" ketika pada suatu malam di acara yang sudah tidak saya ingat dan disiarkan TVRI, Rendra tampil membaca sajak. Saya lebih mengenal siapa Rendra lagi (meski saya tidak pernah melihat langsung sosoknya), ketika kira-kira di tahun 2000, saya menyaksikan gelaran pentas teater oleh sekelompok sanggar di Auditorium IAIN Yogyakarta, dengan menampilkan "Nyanyian Angsa". Terakhir saya menyaksikan Rendra, dan menulis berita tentangnya, saat dia membacakan sajak di acara Deklarasi duet Megawati-Prabowo di Bantar Gebang beberapa bulan lalu. Berikut ini naskah Nyanyian Angsa Rendra: NYANYIAN ANGSA Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya: “Sudah dua minggu kamu berbaring. Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilkan uang. Malahan kapadaku kamu berhutang. Ini beaya melulu. Aku tak kuat lagi. ...

pada sebuah pagi

Pagi ini, seperti pagi yang kemarin, saya terbangun, kemudian termangu di hadapan layar monitor. Di luar ada suara kicau dari beberapa ekor burung peliharaan tetangga. Ramai dan meriah. Saya serasa berada di tengah-tengah kebun dengan pohon-pohon. Tetapi saya menyadari, saya tidak sedang berada di kebun dengan pohon-pohon. Saya berada di belantara dunia maya, melakukan interaksi ajaib dengan manusia dari semua bangsa. Dunia modern ini, kata orang, mencabut ruang dari waktu. Kita bisa berada di mana-mana tanpa harus ke mana- mana. Sebuah layar monitor dilengkapi tut dan alat penangkap sinyal menjadi kendaraan perjalanan ke dunia tanpa batas itu. Teknologi ini mentransformasi cara hidup dan cara laku sehari-hari kita. Keadaan ini kita terima begitu saja. Namun saya penasaran dan ingin sekali memahami dan merasakan apa peristiwa yang dahulu berlaku sebelum alat-alat teknologi ini menjadi bagian dari (embedded) sehari-hari kita.

kepada kawan saya yang jauh

Kawan saya yang kini jarak tinggalnya jauh di seberang pulau berkirim pesan singkat selamat natal yang agak janggal kepada saya: "Selamat Natal 1429 H Kawan," tulisnya. Ketika terbangun, saya teringat kawan saya ini, yang kini jarak tinggalnya bermil jauhnya dari saya. Pesawat Sriwijaya Air penerbangan Surabaya - Kalimantan membawanya meninggalkan tanah kelahiran. "Perjuangan tidak harus di sini (Jawa), kawan. Kita perlu melebarkan sayap," kata kawan saya itu suatu ketika, saat saya memintanya untuk sebaiknya melanjutkan karir menjadi wartawan di Jakarta. Saat ini dia menjadi tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat (Kaltim). Sebelumnya, dia menamatkan studi program magister di IAIN Surabaya. Setelah itu melanjutkan ke program magister studi ICAS di Jakarta, masa pendidikan yang hanya dilakoninya satu smester, sebelum kemudian memutuskan untuk keluar dan memilih menjadi penulis lepas, lalu menjalani profesi wartawan d...

Membincangkan Richard Florida dan Tesis Jalan-jalan

Sebulan lalu, di dalam sebuah mobil, dalam perjalanan pulang sehabis dari melayat di rumah rekan Joko "Gombloh" Suranto, di Klaten, saya, Sujud, Mbak Tari dan Linda, terlibat dalam perbincangan tentang banyak hal. Obrolan berjalan ke sana kemari. Satu di antara isi obrolan itu yang masih saya ingat-ingat adalah soal tokoh yang baru saya kenal, Richard Florida. Mula-mula rekan Sujud yang memulai membuka pembicaraan dengan mengutarakan gagasan Florida soal "kelas kreatif", suatu struktur kelas sosial baru yang melampaui kategori rigid pembagian kelas a la marxian. Gagasan Flo diutarakan dalam karyanya yang berjudul The Rise of the Creative Class . Kalau saya utarakan secara singkat, kira-kira begini isi gagasan Flo dalam The Rise of. .. Sebenarnya yang dia maksud sebagai kelas kreatif itu adalah sekelompok masyarakat dari generasi muda, yang memiliki kelebihan intelektual, keterampilan dan secara kreatif memaksimalkan keterampilan mereka untuk sesuatu yang menghasilka...

Seorang Lelaki Tua yang Tengah Menziarahi Kuburan Sanaknya

Sore menjelang lebaran. Di tengah sebuah pemakaman umum, berjalan seorang lelaki tua. Dengan langkah pelan, di antara tonggak nisan dan ilalang yang lesu karena terinjak, ia sibuk mencari-cari letak sebuah makam dari salah satu anggota sanak familinya. Usianya telah sangat tua, pandangan matanya telah kabur, dan barangkali ingatannya tidak cukup kuat untuk mengingat-ingat di mana letak kubur sanak familinya yang dimaksud. Ia berdiri. Memandang ke kanan dan ke kiri. Batu-batu nisan di hadapannya begitu banyak. Manakah gerangan milik dari sanak familinya yang hendak ia kunjungi? Ia berdiri. Memandang ke kanan dan ke kiri. Para peziarah lain lewat di sampingnya. Sebagian besar lahan pekuburan itu telah berubah hampir tiap tahun. Banyak anggota keluarga yang memuliakan kuburan sanak famili mereka dengan memberi penanda berupa tangkupan yang dibeli mahal dari toko penyedia bahan untuk pekuburan. Lalu di mana letak kuburan sanak famili yang hendak ia kunjungi? Sore menjelang lebaran. Orang-o...

Di Dalam Rahmatmu Tuan Kapitalis

Sore menjelang petang akhir pekan lalu, saya dan seorang kawan berkunjung ke sebuah pusat perbelanjaan, Ambarrukmo Plaza. Ini saat bulan puasa. Suasana di dalamnya dibikin sesuai dengan nuansa bulan puasa. Musik-musik islami menggema. Pamflet-pamflet promo mengajak berbelanja sambil beramal. Sebagian barang yang memenuhi rumah belanja berhubungan dengan kepentingan konsumen di bulan puasa: fashion, makanan, entertain. Ini bulan puasa. Di masjid dan televisi, melalui para juru dakwah, orang diajak meningkatkan ibadah. Orang diajak memperbanyak sedekah. Orang dilarang bersikap berlebihan. Puasa, katanya, sarana latihan menahan diri dari kemauan yang berlebih. Saya masuk ke dalam sebuah rumah belanja. Di dalamnya barang-barang melimpah. Jauh lebih banyak dari yang pernah saya saksikan di luar bulan puasa. Kata promo yang tertulis di pamflet rumah belanja itu, bulan ini adalah "bulan berbagi", "indahnya berbelanja dengan kebersamaan". Pesan ini terdengar religius. Karen...

Cerita Indu Tentang Mughal

Tentang kesultanan Mughal di India, saya hanya sempat mendengarnya di kuliah Sejarah Peradaban Islam . Dulu sekali. Saya juga mendapat tugas membuat makalah tentang kejayaan Islam di India di bawah pemerintahan Sultan Mughal. Dulu sekali. Makalah itu dititikberatkan kepada penjelasan tentang pluralisme beragama yang dikembangkan oleh Sultan Mughal. Setelah itu saya tidak pernah ingat lagi tentang sejarah kesultanan Mughal, sampai pada suatu hari, di perpustakaan, saya menemukan sebuah novel, ditulis oleh Indu Sundaresan. Novel itu berjudul "Mehrunnisa, The Twentieth Wife" (Mehrunnisa, Isteri Keduapuluh). Novel itu mengisahkan tentang Mehrunnisa, seorang perempuan, anak dari pegawai kesultanan Mughal, keturunan Persia. Ayahnya, Gias Beg, adalah putra dari Wazir (Perdana Menteri) yang dipecat di kerajaan Safavi. Gias Beg bersama istrinya yang hamil, Asmat, melarikan diri menembus perbatasan tanah Hindustan. Dalam perjalanan pelarian ini, pada suatu malam yang sejuk, Asmat melah...

O, Frida Kahlo

Sebuah kamar di sebelah kamar kos saya baru saja di bongkar. Sudah tiga bulan ini penghuninya tidak muncul. Masa kontrak telah habis. Barang-barang dikeluarkan; kasur, bantal-bantal yang mulai ditumbuhi jamur, tape, karpet, dispenser, botol-botol berisi minuman sirup dan rak buku. Di antara koleksi buku yang sedikit itu, saya melihat novel berjudul Frida, karya Barbara Mujica. Saya mengambil dan membacanya. Saya seperti pernah mengenal nama itu, Frida Kahlo. Tapi di mana saya pernah menemukannya? Saya berusaha mengingat kembali dan.. O, Frida Kahlo. Saya teringat sajak yang ditulis Goenawan Mohamad, di lembaran majalah Kalam , mungkin edisi 1993 atau '94. di alismu langit berkabung dengan jerit hitam dua burung di ragamu tiang patah di kamar narkose, ampul tertebar : rasa sakit dan sejarah GM menulis sajak itu khusus untuk Frida Kahlo. Frida seorang perempuan, pelukis, aktivis liga pemuda komunis, yang menjalani hidup dengan lika liku kontroversial. Ibunya seorang Mexico, Kato...