Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label catatan harian

Not The Last Supper

Gambar foto ini semula saya lihat ketika baru masuk ke pintu beranda account facebook saya. Gambar ini mengejutkan saya, menarik perhatian saya. Aha! Bukankah foto ini merupakan apropriasi dari lukisan mural karya Leonardo Da Vinci berjudul "The Last Supper" (Perjamuan Terakhir dalam bahasa Itali "L Ultima Cena") yang dibuat pada abad 15 Masehi di sebuah biara di Milan Italia. Foto ini sendiri dibuat rekan-rekan IVAA (Indonesia Visual Art Archive) di Kantor Yayasan Cemeti Patehan, Yogya. Sekedar iseng, baiklah untuk membicarakan foto ini dalam kaitannya sebagai sebuah apropriasi. Melihat foto ini, orang dengan segera teringat kepada hasil mahakarya Da Vinci. Apalagi, judulnya sendiri merupakan kemiripan dari karya aslinya; "Not The Last Supper". Karya foto ini lahir dari kegenitan ide rekan-rekan IVAA (entah siapa yang punya ide ini, mungkin fotografernya atau yang lain). Keisengan karya ini memberikan pemahaman akan spirit yang tengah berkemba...

Tolerance but Refusing Food

During my living in Bali, I get into a new interaction with others of Hindus. Here, in Negara, we live side by side with Hindus. It seem the religious sentiment that recently arose among religious follower didn't take impact towards the religious community relationship in Bali. In Negara of Jembrana Regency, majority moslem live in Loloan village, near by Negara City. Some are live in Pulukan, Medewi, Banyubiru, Melaya, and Gilimanuk. It is unique that moslem in Negara (Loloan) using a Melayu language to communicate. Some using both Melayu and Balinese local language. In the center of Negara traditional market, we can see a kind of good interaction between two of religious follower Moslem and Hindus. We can make difference of who Hindus are and who Moslem. Hindus trader usually put a small sanggah (a place to put incense and flowers for worship) gaudy looked in a corner of their shop. Hindus speak Balinese and Moslem speak both Melayu and Balinese. Some moslem work as servant...

BIL

Lombok International Airport (BIL / Bandara Internasional Lombok) has been recently officiated, ending the long time process of its construction. I just took flight from Lombok to Bali. The trip from my home to BIL take only 25 minute, and it might be less than 25 if only the condition of the roadway better. Now, the main roadway from Praya the central city of Middle Lombok to my village is being under constructed. I took flight at 12.30 p.m. and I arrived an hour before check in time at 11.30 a.m. I intended to get there early for to know more the situation around the airport. It is wider than previous Selaparang Airport. Yet, the condition around didn't established yet. The floor look dirty, and no cleaning service there. The goods peddler (asongan) scattered in the main gate to the custom building. They were some local people most were woman more than 40 of age. Some gathered near by the custom building looking into passenger in the check in room. So sorrow to see them....

anyer

Dari ruang vila tempat saya menginap yang jaraknya hanya selemparan batu dari bibir Pantai Anyer, bunyi ombak terdengar setiap saat. Saat saya berdiri di atas pasir lembut Pantai Anyer, mata saya memandang jauh melampaui keramaian orang-orang yang tengah bermain-main di sekitar pantai. Ini kali pertama saya ke Pantai Anyer. Seorang rekan wartawan, mengajak saya bergabung dalam kegiatan tiga hari rekan-rekan wartawan Balaikota DKI. Jarak Jakarta - Anyer ditempuh dalam waktu tiga jam, dengan bus pariwisata. "Anyer" tentu bukan nama asing buat saya. Semula, nama Anyer hanya saya temukan saat saya membaca literatur sejarah masa kolonial. Bicara sejarah masa kolonial di Indonesia, nama tempat ini tak terpisahkan. Di Anyer-lah Gubernur Jenderal Daendels meletakkan batu pertama pembangunan mega proyek Jalan Pos Besar (De Groote PostWeg) atau yang saat ini dikenal dengan Jalan Pantura. Ini merupakan prestasi terbesar sang Gubernur Jenderal selama dia memerint...

Gus Dur, Secarik Kenangan Dari Saya

Rabu 30 Desember 2009, senja hari. Saya baru saja membuka satu situs website ketika tiba-tiba terpampang di hadapan saya, berita headline meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). ”Gus Dur meninggal ???!!” saya berseru dalam hati. Ya, Gus Dur meninggal beberapa menit lalu. Saya berkirim SMS memberitahukan kepada beberapa kawan yang mungkin belum menyimak berita ini. Saya berusaha mengurai informasi lebih jauh terkait meninggalnya Gus Dur, dari berita web tersebut. Tanpa saya sadari, dada saya terguncang, dan mata saya berkaca-kaca. Gus Dur meninggal. Sesuatu yang mungkin terjadi di tengah kondisi kesehatan beliau yang terus menurun dalam beberapa hari terakhir. Berbilang hari sebelumnya, Gus Dur dikabarkan sakit dan menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Jombang Jawa Timur, saat tengah melakukan kegiatan ziarah ke beberapa pesantren di kota kelahirannya. Dari Jombang, Gus Dur dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Selang tak berapa lama, kesehatan Gus Dur dika...

Buaya

Belum pernah saya menonton rapat dengar pendapat DPR hingga begitu lama, kecuali tadi malam (Kamis 5/11/09) saat Polri menggelarnya dengan Komisi III, terkait kredibilitas Polri selaku institusi yang dalam jangka dekat ini tercoreng akibat ulah keterlibatan salah satu oknumnya dalam sebuah konspirasi besar (seperti disangkakan) untuk melemahkan institusi Komisi Pemberantas Korupsi. Saya memelototi layar kaca hingga lewat jam 12 malam. Ini adalah isu besar, masalah yang paling ramai menyita perhatian. Tiga institusi penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan KPK) sama-sama saling menyerang terutama antara KPK dan Kepolisian. Pertunjukan tadi malam kalau boleh dikatakan, merupakan serangan balik Polri terhadap KPK yang sebelumnya pada Selasa (3/11/09) lalu, KPK membeberkan isi rekaman percakapan konspirasi jahat itu di Mahkamah Konstitusi. Rekaman itu sendiri berisi percakapan antara Anggodo Widjojo, adik kandung buron Anggoro Widjojo, bersama beberapa orang (penegak hukum) dalam usaha pel...