Langsung ke konten utama

Gili


Mudik ke Lombok lebaran lalu, kami berlibur ke Sekotong, Lombok Barat. Ikut serta ayah ibuku, kakak adik dan keponakanku. 

Kami menyewa lima kamar di sebuah bungalow di tepi pantai. Namanya, Kresna Bungalow. Pemilik bungalow, orang bali bernama Pak Wayan. Satu kamar sewanya seharga Rp. 380.000.

Sebelum check in, jam 10 pagi kami sewa perahu untuk menyeberang ke tiga gili yang terletak beberapa ratus meter dari pantai. Gili adalah pulau kecil di seberang pulau induk. Ketiga gili yang kami kunjungi adalah Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Kedis yang letaknya berjejer. Harga sewa perahu Rp. 600.000 untuk kunjungan ke tiga tempat itu. Ditambah lagi harga parkir masuk Rp. 100.000 untuk delapan belas orang penumpang perahu, sesuai permintaan supir perahu. 

Naik perahu ke Gili Gede / foto Sam


Perjalanan ke Gili Nanggu butuh waktu 15 menit saja. Turun dari perahu, Nisa dan Yasi keponakanku Yuris, Neja dan Ananta segera berhambur menyelam ke laut dangkal di tepi gili. Ada banyak anak-anak dan orang dewasa yang sedang menyelam di situ. 

Aku sendiri tidak hobi menyelam. Lebih senang foto-foto pemandangan di sekitar, atau berjalan-jalan di atas pasir mengelilingi setengah lingkaran Gili Nanggu. 

Di Gili Nanggu rupanya terdapat bangunan vila yang berjejer. Tetapi tampak tak terawat. Halamannya ditumbuhi ilalang. Beberapa pintu dan jendela dibiarkan terbuka. Bangunan itu seperti sudah tak bernyawa lagi. Sepasang bule tampak sedang asyik duduk becengkrama di salah satu bangunan vila itu. Mungkin dia tamu yang sedang menginap, atau hanya sekedar numpang duduk saja. 

Setelah hampir satu jam berada di Gili Nanggu, kami bergeser ke Gili Kedis, dengan melangkahi Gili Sudak. Ini gili paling kecil. Ukuran daratannya sangat mini. Jika permukaan air laut naik, gili ini bisa terbenam. 

Beberapa bangku panjang disediakan di bawah rindang pohon waru. Ada juga gazebo mini yang bisa digunakan untuk kongkow bareng. 

Seperti di Gili Nanggu, di Gili Kedis ada warung sederhana yang selain menjual makanan ringan "beracun" (pop mie dan sejenisnya) juga menjual kelapa muda.  Kami memesan lima buah kelapa muda.

Sementara anak-anak asyik menyelam dan bermain pasir, kami duduk santai di bawah pohon waru sambil menikmati kelapa muda. Memang asyik buat anak-anak bermain pasir di tempat seperti ini.  

Tak sampai satu jam kami di sini. Matahari sudah kian tegak lurus dengan pohon kelapa. Kami meminta supir perahu untuk membawa kami ke bungalow. Perahu sempat bersandar di bibir pantai Gili Sudak, tetapi tidak jadi kami singgahi, karena sepertinya tempat itu kurang nyaman untuk disinggahi. 

Terdapat sebuah resort di Gili Sudak. Konon, pemilik resort itu sempat bersengketa panjang di meja pengadilan dengan pemilik Gili Sudak. Sebuah papan pemberitahuan di tepi pantai Gili Sudak memberitahukan siapa si pemilik sah tanah gili itu.

Perahu meluncur pulang ke bungalow. Turun dari perahu, kami segera menuju kamar penginapan. Jarum jam telah menunjuk pukul 12 tengah hari. Pemilik penginapan membebaskan kami untuk masuk, sekalipun belum jam check in (jam 2 siang). 

Kamar bungalow telah ditata dengan baik. Cukup bersih. Bed-nya lebar. Bisa untuk dua orang dewasa ditambah satu anak. Hanya  stelan kran air hangatnya tidak berfungsi. Tapi tak mengapa. Toh di sini cuaca tidak dingin sekali. Kolam renang di depan kamar cukup bersih. Anak-anak pasti senang berendam.  

Saat petang hari, langit tampak cerah. Bintang-bintang menari. Sementara di hamparan laut yang tenang, tampak satu dua buah perahu nelayan hilir mudik. 

Kami duduk bersama di depan salah satu kamar yang ditempati ayah dan ibuku, sambil menyantap makan malam seadanya; bekal dari rumah. Suara ombak yang tenang menambah suasana malam itu sangat menyenangkan. 

Ketika malam kian beranjak, Aku duduk sendiri di hadapan kamar, memandang jauh ke tiga gili yang tadi siang kami kunjungi. 
   

Dari informasi warga, saya diberitahu bahwa vila di Gili Nanggu itu sudah lama tak beroperasi, sejak musim Covid-19, atau sejak 2020 silam. 

Dahulu, jika dilihat dari daratan, pada malam hari, Gili Nanggu tampak bercahaya terang, bagai bintang besar di kegelapan malam. Itu di masa ketika masih banyak tamu-tamu menginap di vila, dan kehidupan malam di tempat itu masih semarak. 

Kini, cahaya terang itu sudah lama pudar. Tersisa hanya sebutir lampu putih berkelip di sana. Sangat menyeramkan jika kita berada malam hari di vila Gili Nanggu. Menyedihkan melihat nasib bangunan-bangunan hotel, resort dan vila yang terbengkalai. Lebih-lebih jika terletak di sebuah pulau kecil yang sunyi. 

Bisnis pariwisata banyak memanfaatkan pulau-pulau kecil. Tak heran, banyak pulau kecil yang sudah jadi milik privat. Di situ bercokol vila, resort, hotel, club dan segala fasilitas penunjang kegiatan pelesiran.   

Tak kusadari, ada kerabat yang datang menjenguk kami ke bungalow. Mereka adalah anak dari sepupu ayahku bernama Inaq Bitah. Yang datang ke bungalow adalah anak dari Inaq Bitah dan menantunya. Rupanya, tadi sore ibuku sempat mengontak mereka dan mengabari bahwa kami sedang menginap di Sekotong.

Kampung tempat mereka tinggal tak jauh dari bungalow. Hanya lima kilometer. Kami berbincang hingga jam 10 malam. Kami akan diajak untuk menjenguk salah satu kerabat, masih sepupu ayahku, yang tinggalnya di Gili Gede. Tujuh kilo dari bungalow lalu naik perahu mesin untuk mencapainya. 

Rencananya, besok pagi jam 10 kami check out dari bungalow dan akan menuju Gili Gede.  

Satu jam menjelang subuh, Aku terjaga. Suara ombak di luar terdengar jelas sekali. Aku cuci muka untuk kemudian sembahyang malam. Sengaja aku sembayang di teras kamar, sambil memandang langit dan melihat kegelapan lautan dengan suara ombaknya yang teratur bagai lantunan dzikir alam.

Ketika matahari muncul, Aku berjalan tanpa alas kaki, di permukaan pasir pantai, hingga sejauh setengah kilometer. Pesisir pantai terbilang bersih. Tidak banyak sampah plastik. Untung gelombang ombak di pesisir tidak besar. Letak bangunan yang berdekatan dengan pantai sangat beresiko terkikis dalam tempo cepat. 

Keberadaan pulau-pulau kecil di tengah itu, berfungsi sebagai bamper, sehingga ombak tak terlalu mengamuk di bibir pantai, tempat banyak bangunan fisik berdiri.

Selepas sarapan dan mandi, kami bersiap untuk check out dan menuju Gili Gede. Sarapan kami dengan lontong pecel khas Lombok yang dibeli dari warung terdekat. Sementara bungalow hanya menyediakan sarapan berupa dua piring nasi goreng untuk setiap kamar. 

foto gazebo Kresna Bungalow;
ibuku, ayahku, Inaq Bitah (kerudung putih) dan menantunya/ foto Sam 


  


______ 

 Libur lebaran tahun 2026 ini, kami ke daerah Sekotong Lombok Barat. Menginap di sebuah bungalow di tepi pantai, namanya Kresna Bungalow. 

Dari sini kita sewa perahu Rp. 600.000 yang muat 18 orang. Dengan perahu itu, kami singgah ke Gili Nanggu, Gili Kedis dan Gili Sudak. 

Diantara ketiga tempat itu, spot paling asyik adalah di Gili Kedis. Sebuah daratan mini yang ukurannya hanya seluas lapangan Futsal. Ada sebuah warung yang menjual kelapa muda dan camilan di situ. Kami duduk-duduk di dipan kayu di bawah pohon Waru sambil menikmati kelapa muda. 

Anak-anak bermain di pasir. Pasir putih. 

______ 

Kami menyewa lima kamar dan menginap semalam di Kresna Bungalow Sekotong. Letak bungalow di tepi pantai. Dari teras bungalow kita bisa nikmati pemandangan air laut teduh.  

Esok harinya, kami berangkat ke Gili Gede dengan menumpang perahu. 

Rupanya, di wilayah sekotong ini, kami punya kerabat dekat. Sepupu dari ayahku. Dua orang tinggal di daratan. Satu lagi menghuni Gili Gede di seberang. 

Kami menyewa perahu untuk sampai ke daratan Gili Gede. Di sana, kami jumpa kerabat. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Labuan Bajo

       Entah darimana isteriku dapat wangsit. T iba-tiba dia membuat rencana hendak   bepergian jauh: ke Labuan Bajo. Niatnya ini dia utarakan padaku, kira-kira tiga bulan sebelum keberangkatan kami.; “Kita akan ke Labuan Bajo   di musim liburan anak-anak nanti.” Tekadnya untuk pergi kian bulat, sebulat telur penyu. Dia rajin melihat review-review di kanal youtube dan medsos lainnya untuk mendapatkan kiat-kiat menempuh perjalanan jauh itu. Aku sendiri tidak pernah terpikir akan jalan-jalan ke sana. Jangankan ke Labuan Bajo, ke pulau tetangga (Sumbawa) saja saya belum pernah injakkan kaki. Sejauh ini, pemandangan di wilayah bagian timur Indonesia hanya saya saksikan secara intens dari menonton film-film Ekspedisi Indonesia Biru garapan dua jurnalis, Bung Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz alias Ucok.  Keduanya melakukan perjalanan keliling Nusantara di tahun 2015 silam dengan honda bebek. Hasilnya luar biasa:  gambar-gambar video yang kemudia...

Larantuka

Plakat Istana Larantuka / foto sam Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk sampai ke Ende. Pertama, dengan kapal laut yang bertolak dari Surabaya. Kedua, dengan kapal laut yang sama yang bertolak dari Lombok.  Keduanya sama-sama pilihan yang ambigu.  Setelah berdiskusi, akhirnya kami ambil opsi kedua; bertolak dari Gilimas Lombok. Itu artinya, kami harus menyeberang ke Lombok dulu dari Padangbay menuju Lembar. 10 Juni Perjalanan dari rumah kami di Jembrana Bali, dimulai pada jam 2 siang, tanggal 10 Juni 2025, hari Selasa, bertepatan tanggal 14 Dzulhijjah 1446 tahun hijriyah.  Kendaraan masih Toyota Rush Konde legendaris yang sudah hampir dua belas tahun menemani perjalanan kami.  Persiapan terkait kendaraan ini sudah Aku cukupi. Mulai dari servis berkala, penggantian oli mesin, ganti bearings (klaher) di bagian roda depan kiri, perbaikan seal rem yang rusak, hingga penggantian empat buah ban roda.  Kali ini Aku coba pakai GT Savero untuk mengganti merk ban asli D...

Dari Gresik Sampai Tuban, Jalan-jalan Jelang Lebaran

Pukul 23.00, bus yang membawa saya dari Jogja tiba di Surabaya. Arus mudik di jalur bagian tengah pulau Jawa tidak terlalu besar. Jarang sekali saya jumpai kemacetan. Perjalanan ditempuh menurut lama waktu normal; 8 jam. Di Surabaya, saya dan kawan Tatok, seorang kawan lama yang bersama saya dalam perjalanan mudik ini, menginap di sebuah asrama di belakang kampus IAIN Ampel. Saya hanya sempat beristirahat 4 jam, sebelum pada jam 7 keesokan paginya, saya dan kawan Tatok melanjutkan perjalanan ke barat menuju kota Gresik. Jalan-jalan di pasar Gresik Kebetulan kawan Tatok dititipi pesan seorang sepupunya yang tengah nyidam pudak. Dia diminta untuk membeli pudak, sejenis penganan khas kota Gresik. Konon, kata saudara sepupu kawan Tatok, di usia kehamilan yang baru menginjak beberapa hari, dia selalu membayangkan pudak. Maklum, orang nyidam punya keinginan yang aneh-aneh. Jadilah kami mampir di pasar Gresik untuk membeli pudak. Tiga hari menjelang lebaran, keadaan di pasar Gresik sangat ram...