Langsung ke konten utama

Postingan

Buya Syafi'i Ma'arif

Buya Syafi'i hari ini pergi. Dia meninggalkan kita semua, bangsa yang kokoh meski terbelah. Terbelah oleh perbedaan pandangan, oleh aspirasi politik dan kepentingan. Suatu keadaan yang mungkin masih ditangisinya hingga akhir hayat.  Saya ingin mengenang satu perjumpaan pertama saya dengan Buya Syafi'i. Pernyataan Buya Syafi'i dalam pertemuan itu sangat membekas dalam ingatan saya.  Tahun 2001, saya sudah lupa hari dan tanggalnya. Ada acara bedah buku berjudul "Demokrasi untuk Indonesia" karya Hasan Tiro, bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 2  Fisipol UGM.  Satu diantara pembicara dalam pertemuan itu adalah Dr. Ahmad Syafii Maarif. Lainnya, Tengku Ibrahim namanya.   Acara dimulai jam 10 pagi. Peserta diskusi tidak banyak, karena ada beberapa kursi kosong. Saya hadir dalam acara itu bersama-sama empat rekan sesama mahasisawa IAIN Sunan Kalijaga yang doyan hadir dalam pertemuan-pertemuan seminar, bedah buku, diskusi publik dan apa saja yang tidak memungut biay...

Kapal Selam

Seumur-umur saya belum pernah liat langsung kapal selam.  Padahal, saban tahun saya menyeberangi laut. Kalau tidak ke Jawa, ya ke Lombok.  Setiap saat saya mengajak anak-anak dan bini rekreasi ke pantai.  Tak juga kulihat langsung kapal selam.  Sebetulnya, saya lumayan akrab dengan kapal selam, sebab bini kerap mengajak saya makan makanan khas Palembang yang kesohor bernama empek empek Kapal Selam. Tetapi, rupa kapal selam itu sendiri saya tak tahu.  Dalam bulan puasa ini, musibah menimpa kapal selam kita.  KRI Nanggala 402 terkubur di utara laut Bali, bersama 53 orang awaknya.  Peristiwa hilang kontak KRI Nanggala terjadi pada 21 April lalu.  Setelah melalui proses pencarian, hari ini, kapal selam tua yang beroperasi sejak 1980 itu dinyatakan patah jadi tiga bagian, dan seluruh awaknya gugur.  Badan kapal Nanggala 402 itu sendiri, terperosok ke palung laut sedalam 800 meter. Sungguh sangat dalam.  Kejadian ini, jadi pelajaran penting bu...

Artidjo

2004 Pria itu duduk di kursi paling belakang. Belum banyak mahasiswa yang masuk ruangan Aula I Kampus IAIN Sunan Kalijaga untuk mengikuti seminar dengan pembicara utamanya, Pak Artidjo Alkostar.  Kami segera mengenalinya, kerna tampak paling beda diantara beberapa orang di ruangan itu.  Berjas putih kusam kemeja putih dan pantalon putih kusam. Sepatunya terlihat tidak mewah dan jarang disemir. Berkacamata. Berbadan kurus. Rambutnya tak mengkilap sebagaimana rambut orang-orang yang bekerja di bidang hukum. Wajahnya seperti terlalu sering kena matahari. Padahal ia seorang hakim agung.  "Itu dia Pak Artidjo". Kami bertiga; saya, kawan Agus Salim dan Ahmad Munir, menghampirinya tanpa rasa sungkan, kerna penampilannya tak mewah.   Setelah menguraikan maksud, berlangsunglah wawancara setengah jam dengan Pak Artidjo.  Dia merespon pertanyaan kami dengan antusias, kendati cuma majalah berskala kampus.  Kalau tak salah tema wawancara soal hak Sarjana Syariah un...

Kang Jalal

 Kang Jalal bukan orang asing bagi saya. Dia sudah kukenal sejak saya masih di pesantren, di bangku SMA, lewat buku-bukunya yang dikoleksi teman senior sekamarku di asrama: seperti Psikologi Komunikasi dan Islam Aktual.  Kelak setelah saya pindah ke Yogya, saya makin dekat dengan Kang Jalal, lewat buku-buku berisi kumpulan artikelnya yang kukoleksi, termasuk buku utuh Psikologi Komunikasi itu.  Beberapa karya tulis Kang Jalal yang sudah menjadi bagian koleksi perpustakaan pribadiku antara lain: Islam Aktual, Islam Alternatif, Psikologi Komunikasi, Rekayasa Sosial, Tafsir Surah Alfatihah, Psikologi Agama, Catatan Kang Jalal dan lain lain.  Bahasa tulisan Kang Jalal sangat renyah. Mudah dimengerti. Gampang mempengaruhi pikiran seseorang. Itulah yang kurasakan waktu pertama mula menjadi pembaca karya Kang Jalal.  Sekitar tahun 2001, saya bertemu dua mahasiswa dari Jepang yang tengah mengadakan penelitian tentang Islam. Siang itu, di Kampus IAIN, dua mahasiswa itu m...

MARADONA

Maradona betul-betul seorang bintang.  Nama Maradona sudah kukenal sejak kanak-kanak. Lebih tepatnya sejak di bangku taman kanak-kanak.  Barangkali, dia nama satu-satunya pemain sepakbola dari luar yang kukenal namanya. Lain tidak.  Aku pernah dibelikan kaos bola seragam (jersey) timnas Argentina bernomor punggung 10. Ibuku yang membelikannya di pedagang emper pasar tradisional Sabtu pagi.  Poster-poster Maradona dengan seragam tim Tanggo banyak bertengger di dinding tembok ataupun dinding bedek rumah-rumah warga kampungku. Kadang bersanding dengan bintang-bintang sepakbola ternama lainnya, seperti Van Basten dan Ruud Gulit. Aku mengenal wajah Maradona dengan jelas dari poster-poster itu. Sesekali dia terlihat dalam sekelebat siaran berita di TVRI berlayar hitam-putih. Benar-benar mempesona di mata kanak-kanak seusiaku.       Di masa kanak itu, Aku pernah melambungkan mimpi ingin menjadi seperti Maradona yang hebat itu. Dengan bola plastik dan kao...

Datok Kiai Haji Mohammad Yasin Sa’ad

 Sebuah Catatan Kenangan Saya menyaksikan sendiri saat terakhir Datok Kiai Mohammad Yasin Sa’ad. Sebagai kenang-kenangan saya akan menuliskannya di sini.   Jarum jam menunjuk pukul sembilan malam. Acara rutin bulanan Lailatul Ijtima’ Nahdlatul Ulama Majelis Wakil Cabang Negara tengah berlangsung, dibuka dengan pembacaan wirid Ratibulhaddad dipimpin Ustadz Husnein Pengambengan. Dari belakang hadirin, muncul seorang tua berwajah purnama, berbaju taqwa putih dengan jas hitam, kupiah putih, sarung hijau dan sebuah serban bercorak putih hitam diselempangkan di pundak.  Tangannya memegang sebuah buku tipis dan lembaran kertas berisi catatan tangan dalam tulisan Arab. Kedua telapak kaki berbungkus kaos kaki hitam, mungkin untuk menahan hawa dingin malam.   Orang tua yang baru hadir ini adalah  Datok Yasin. Segera para hadirin menyambut beliau, berdiri hormat, lalu menyalami. Seperti para hadirin yang lain, saya berdiri dan menyalami tangan lembut Datok Yasin. Dari atas...

Sehimpunan Puisi-Puisiku

Bagian ini akan memuat puisi-puisi yang kutulis pada suatu waktu, dalam suatu situasi.   Sajak Samsul Bahri Kepada Zainul Walid Bila berat rinduku pada sebuah tempat di suatu masa, dimana kita jerang luka jadi tawa Sajak-sajakmulah biduk kecil yang mengantarku berlayar ke sana   Bila berat rinduku pada sebuah tempat di suatu ketika, dimana kita bersua jadi saudara Puisi-puisimulah jentera waktu yang memintal ingatanku pada ruas langkan asrama  dan aroma bunga di Asta Selain puisi-puisimu Adakah lagi yang memulangkan segala kenangan pada hikayat lelaki tua yang begitu setia menyimpan nama-nama kita di saku bajunya?!!   Selain puisi-puisimu Siapakah lagi yang menyadarkan arti kehadiran kita di sini, di tempat keramat ini,  hanya sekedar singgah ataukah benar-benar kembali?!!   Zainul Walid, dimanakah dulu kita pernah berdua duduk bercengkrama, dan kau ceritakan “mimpi bertemu lelaki tua yang memintamu membaca puisi, sementara yang lain mengaji” Lalu... B...