Langsung ke konten utama

Postingan

Kang Jalal

 Kang Jalal bukan orang asing bagi saya. Dia sudah kukenal sejak saya masih di pesantren, di bangku SMA, lewat buku-bukunya yang dikoleksi teman senior sekamarku di asrama: seperti Psikologi Komunikasi dan Islam Aktual.  Kelak setelah saya pindah ke Yogya, saya makin dekat dengan Kang Jalal, lewat buku-buku berisi kumpulan artikelnya yang kukoleksi, termasuk buku utuh Psikologi Komunikasi itu.  Beberapa karya tulis Kang Jalal yang sudah menjadi bagian koleksi perpustakaan pribadiku antara lain: Islam Aktual, Islam Alternatif, Psikologi Komunikasi, Rekayasa Sosial, Tafsir Surah Alfatihah, Psikologi Agama, Catatan Kang Jalal dan lain lain.  Bahasa tulisan Kang Jalal sangat renyah. Mudah dimengerti. Gampang mempengaruhi pikiran seseorang. Itulah yang kurasakan waktu pertama mula menjadi pembaca karya Kang Jalal.  Sekitar tahun 2001, saya bertemu dua mahasiswa dari Jepang yang tengah mengadakan penelitian tentang Islam. Siang itu, di Kampus IAIN, dua mahasiswa itu m...

MARADONA

Maradona betul-betul seorang bintang.  Nama Maradona sudah kukenal sejak kanak-kanak. Lebih tepatnya sejak di bangku taman kanak-kanak.  Barangkali, dia nama satu-satunya pemain sepakbola dari luar yang kukenal namanya. Lain tidak.  Aku pernah dibelikan kaos bola seragam (jersey) timnas Argentina bernomor punggung 10. Ibuku yang membelikannya di pedagang emper pasar tradisional Sabtu pagi.  Poster-poster Maradona dengan seragam tim Tanggo banyak bertengger di dinding tembok ataupun dinding bedek rumah-rumah warga kampungku. Kadang bersanding dengan bintang-bintang sepakbola ternama lainnya, seperti Van Basten dan Ruud Gulit. Aku mengenal wajah Maradona dengan jelas dari poster-poster itu. Sesekali dia terlihat dalam sekelebat siaran berita di TVRI berlayar hitam-putih. Benar-benar mempesona di mata kanak-kanak seusiaku.       Di masa kanak itu, Aku pernah melambungkan mimpi ingin menjadi seperti Maradona yang hebat itu. Dengan bola plastik dan kao...

Datok Kiai Haji Mohammad Yasin Sa’ad

 Sebuah Catatan Kenangan Saya menyaksikan sendiri saat terakhir Datok Kiai Mohammad Yasin Sa’ad. Sebagai kenang-kenangan saya akan menuliskannya di sini.   Jarum jam menunjuk pukul sembilan malam. Acara rutin bulanan Lailatul Ijtima’ Nahdlatul Ulama Majelis Wakil Cabang Negara tengah berlangsung, dibuka dengan pembacaan wirid Ratibulhaddad dipimpin Ustadz Husnein Pengambengan. Dari belakang hadirin, muncul seorang tua berwajah purnama, berbaju taqwa putih dengan jas hitam, kupiah putih, sarung hijau dan sebuah serban bercorak putih hitam diselempangkan di pundak.  Tangannya memegang sebuah buku tipis dan lembaran kertas berisi catatan tangan dalam tulisan Arab. Kedua telapak kaki berbungkus kaos kaki hitam, mungkin untuk menahan hawa dingin malam.   Orang tua yang baru hadir ini adalah  Datok Yasin. Segera para hadirin menyambut beliau, berdiri hormat, lalu menyalami. Seperti para hadirin yang lain, saya berdiri dan menyalami tangan lembut Datok Yasin. Dari atas...

Sehimpunan Puisi-Puisiku

Bagian ini akan memuat puisi-puisi yang kutulis pada suatu waktu, dalam suatu situasi.   Sajak Samsul Bahri Kepada Zainul Walid Bila berat rinduku pada sebuah tempat di suatu masa, dimana kita jerang luka jadi tawa Sajak-sajakmulah biduk kecil yang mengantarku berlayar ke sana   Bila berat rinduku pada sebuah tempat di suatu ketika, dimana kita bersua jadi saudara Puisi-puisimulah jentera waktu yang memintal ingatanku pada ruas langkan asrama  dan aroma bunga di Asta Selain puisi-puisimu Adakah lagi yang memulangkan segala kenangan pada hikayat lelaki tua yang begitu setia menyimpan nama-nama kita di saku bajunya?!!   Selain puisi-puisimu Siapakah lagi yang menyadarkan arti kehadiran kita di sini, di tempat keramat ini,  hanya sekedar singgah ataukah benar-benar kembali?!!   Zainul Walid, dimanakah dulu kita pernah berdua duduk bercengkrama, dan kau ceritakan “mimpi bertemu lelaki tua yang memintamu membaca puisi, sementara yang lain mengaji” Lalu... B...

Didi Kempot

Diantara kenangan yang sangat membekas selama tahun-tahun pertama saya di Yogya ialah lagu-lagu pop Jawa Mas Didi Kempot. Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi , dua lagu yang gandrung dinyanyikan anak-anak mahasiswa jaman itu. "Neng Stasiun Balapan,  Kuto Solo sing dadi kenangan,  kowe karo akuuu.." Kadang diplesetkan " kowe karo asuuu ..." Beberapa stasiun radio yang secara khusus memiliki program mengudarakan lagu-lagu pop Jawa, seperti GCD FM Gunung Kidul, Istakalisa FM, kerap dibanjiri pendengar yang gemar me request lagu-lagu Mas Didi. Tengoklah di tahun 2000-an awal itu, jika kita sempat berjalan-jalan di perkampungan Yogya, suara emas Mas Didi Kempot membahana di lorong-lorong, gang-gang sempit, warung-warung makan, angkringan, disamping lagu Perahu Layar karya Ki Narto Sabdo yang dipopulerkan ulang oleh grup Campursari. Di jalanan, para pengamen profesional atau yang sekadar bermodal gitar kencrung, krencek dari tutup botol minuman, melantunkan l...

Kiai Achmad Fawaid As'ad

1993. tahun kedatanganku ke Pesantren Asembagus Sukorejo. Jam 9 pagi, bus Akas yang aku tumpangi berhenti di gerbang selatan, setelah sekira satu jam melaju dari pelabuhan Ketapang.  Segera kerumunan Abang Becak mengerubuti bus, menyodorkan tempat duduk becak mereka di pintu keluar bus, bagai menadah buah jambu yang rontok saat dijolok. Aku, dengan kupiah hitam yang kukenakan dari rumah, duduk bersama ayah dan ibuku dalam satu becak yang akan mengantarkan kami ke sebuah tempat yang sudah dipersiapkan sebagai persinggahan: "Kelapa Cabang!" Segera Abang Becak meluncur, mengayuh dengan kaki becak yang membawa kami, di atas jalanan beraspal kasar; kanan-kiri tegalan, pohon-pohon tebu, rumah-rumah kayu khas Jawa. Lalu tak berapa lama terlewati pula tembok bercat putih yang panjang. "Disini pesantrennya" kata ayah menuding telunjuk ke tembok panjang itu.   Setelah tembok panjang putih itu, kebun-kebun dengan pohon-pohon besar dan rimbun, rumah-rumah, lalu becak belok...

Setelah Subuh

Sudah dua minggu lebih siswa tak datangi gedung sekolah. Semua belajar dari rumah. Kini aku tak punya kesibukan mengantar dan menjemput anak ke sekolah seperti lazimnya. Pagi buta sepulang dari sembahyang subuh, aku kenakan celana, baju kaos, topi capil. Lalu kuraih sabit, dan dengan sepeda gayung aku menerobos dingin udara pagi nan segar, menuju kebun, tempat segala tanaman berjibun. Kebiasaan baruku adalah membersihkan dedaunan, tumbuhan liar, memangkas daun pisang yang menua, memotong rumputan yang tak rapi. Jika ada buah pisang tua, bolehlah aku tebas batang dan mengambil buahnya. Musim wabah corona, merobah segala hal, termasuk kebiasaan pagi hariku.