Langsung ke konten utama

Postingan

Didi Kempot

Diantara kenangan yang sangat membekas selama tahun-tahun pertama saya di Yogya ialah lagu-lagu pop Jawa Mas Didi Kempot. Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi , dua lagu yang gandrung dinyanyikan anak-anak mahasiswa jaman itu. "Neng Stasiun Balapan,  Kuto Solo sing dadi kenangan,  kowe karo akuuu.." Kadang diplesetkan " kowe karo asuuu ..." Beberapa stasiun radio yang secara khusus memiliki program mengudarakan lagu-lagu pop Jawa, seperti GCD FM Gunung Kidul, Istakalisa FM, kerap dibanjiri pendengar yang gemar me request lagu-lagu Mas Didi. Tengoklah di tahun 2000-an awal itu, jika kita sempat berjalan-jalan di perkampungan Yogya, suara emas Mas Didi Kempot membahana di lorong-lorong, gang-gang sempit, warung-warung makan, angkringan, disamping lagu Perahu Layar karya Ki Narto Sabdo yang dipopulerkan ulang oleh grup Campursari. Di jalanan, para pengamen profesional atau yang sekadar bermodal gitar kencrung, krencek dari tutup botol minuman, melantunkan l...

Kiai Achmad Fawaid As'ad

1993. tahun kedatanganku ke Pesantren Asembagus Sukorejo. Jam 9 pagi, bus Akas yang aku tumpangi berhenti di gerbang selatan, setelah sekira satu jam melaju dari pelabuhan Ketapang.  Segera kerumunan Abang Becak mengerubuti bus, menyodorkan tempat duduk becak mereka di pintu keluar bus, bagai menadah buah jambu yang rontok saat dijolok. Aku, dengan kupiah hitam yang kukenakan dari rumah, duduk bersama ayah dan ibuku dalam satu becak yang akan mengantarkan kami ke sebuah tempat yang sudah dipersiapkan sebagai persinggahan: "Kelapa Cabang!" Segera Abang Becak meluncur, mengayuh dengan kaki becak yang membawa kami, di atas jalanan beraspal kasar; kanan-kiri tegalan, pohon-pohon tebu, rumah-rumah kayu khas Jawa. Lalu tak berapa lama terlewati pula tembok bercat putih yang panjang. "Disini pesantrennya" kata ayah menuding telunjuk ke tembok panjang itu.   Setelah tembok panjang putih itu, kebun-kebun dengan pohon-pohon besar dan rimbun, rumah-rumah, lalu becak belok...

Setelah Subuh

Sudah dua minggu lebih siswa tak datangi gedung sekolah. Semua belajar dari rumah. Kini aku tak punya kesibukan mengantar dan menjemput anak ke sekolah seperti lazimnya. Pagi buta sepulang dari sembahyang subuh, aku kenakan celana, baju kaos, topi capil. Lalu kuraih sabit, dan dengan sepeda gayung aku menerobos dingin udara pagi nan segar, menuju kebun, tempat segala tanaman berjibun. Kebiasaan baruku adalah membersihkan dedaunan, tumbuhan liar, memangkas daun pisang yang menua, memotong rumputan yang tak rapi. Jika ada buah pisang tua, bolehlah aku tebas batang dan mengambil buahnya. Musim wabah corona, merobah segala hal, termasuk kebiasaan pagi hariku.

Lelaki Tua Pejalan Kaki

Pagi jum'at 27 Maret. Ini adalah hari Jumat yang menyedihkan. Sebab, siang nanti kami mesti patuh imbauan MUI, DMI, Kemenag, untuk meniadakan sementara kegiatan ibadah yang melibatkan banyak orang (jumatan), demi memutus rantai Covid 19 / coronavirus disease 19. Meski dalam suasana serba hati-hati, saya harus berangkat juga ke tempat kerja. Jarak rumah dari gudang sejauh 11 kilometer. Jam 7.30 pagi, kendaraan yang kutumpangi keluar dari mulut gang, di pertigaan jalan raya besar Gilimanuk-Denpasar. Selagi menunggu sepi untuk berbelok ke jalan besar, mataku tertuju pada seorang lelaki tua, dengan tongkat kayu, berjalan kaki, menutup kepalanya dengan topi kuncung, berkacamata, bercelana panjang, baju sweeter panjang dan berkaus tangan, memanggul ransel di punggung, bersepatu dekil.   Dia berusaha dengan melambaikan tongkat, memberi isyarat agar kendaraan melambat, menyeberangkan seorang nenek tua di jalan besar itu. Aku pikir, lelaki tua ini pastilah seorang yang setengah kurang...

KIAI ULIL, BLANGKON DAN CELANA JEANS

Kiai Ulil Absor Abdalla yang populer karena pernah menggawangi Jaringan Islam Liberal alias JIL itu, belakangan lebih sering pakai blangkon dan kerap mengutip Ihya Ulumiddin AlGazali atau Alhikam Ibn Athaillah AlSakandari kalau bikin komen atau status. Entah apa yang hendak disampaikan Kiai Ulil melalui pesan simbolik dengan membiasakan dirinya menggunakan tutup kepala ala Jawa itu. Yang pasti, itu bukan  kemauan bergaya-gaya yang kosong dari makna. Jikapun ada pesan khusus yang hendak disampaikan lewat gayanya yang klasik nan trendy itu, maka pesan itu harus dilihat secara semesta dengan mempertautkannya dengan kondisi wacana Islam dan kebudayaan yang tengah jadi bahan omongan hari ini.

Gus Solah

Belum lama mendapat kabar wafatnya Habib Hasyim Kamal Assegaf Banyuwangi, tadi malam meluncur kabar meninggalnya Kiai Solahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng, adik kandung Gus Dur.

Empat Malam di Jogja

Hari mulai senja. Tetapi bias merah matahari tak tampak di barat. Hujan deras, awan tebal membungkus langit Jawa Tengah, saat kendaraan kami melaju di tol antara Ngawi -Solo. Kilat petir sesekali membuat kaget, lantaran warna peraknya seperti menutup pandangan, sebelum kemudian disusul gemuruh. Setelah dua jam melaju di tol, sampailah kami di Boyolali. Kami segera disergap kemacetan petang hari sekeluar dari tol. Jalanan basah. tersisa waktu sekira dua jam lagi barulah kami akan tiba di tujuan terakhir kami: Yogya.  Kini jalan-jalan jauh lebih padat dari sepuluh tahun silam. Hotel Paku Mas, Jalan Raya Adisucipto Yogya tempat kami akan menginap. Sesungguhnya ini adalah liburan yang telah dipersiapkan tiga tahun lalu oleh isteriku. Ia dengan tekun menyisihkan serupiah demi serupiah hasil dagangan kami yang akan digunakan untuk berlibur bersama ke Kota Yogya. Tiga tahun lalu itu anak kedua kami, Dhiyaunnisa belum lahir. Dalam perjalanan kali ini, dia telah berusia dua tahun ...