Langsung ke konten utama

Postingan

KIAI ULIL, BLANGKON DAN CELANA JEANS

Kiai Ulil Absor Abdalla yang populer karena pernah menggawangi Jaringan Islam Liberal alias JIL itu, belakangan lebih sering pakai blangkon dan kerap mengutip Ihya Ulumiddin AlGazali atau Alhikam Ibn Athaillah AlSakandari kalau bikin komen atau status. Entah apa yang hendak disampaikan Kiai Ulil melalui pesan simbolik dengan membiasakan dirinya menggunakan tutup kepala ala Jawa itu. Yang pasti, itu bukan  kemauan bergaya-gaya yang kosong dari makna. Jikapun ada pesan khusus yang hendak disampaikan lewat gayanya yang klasik nan trendy itu, maka pesan itu harus dilihat secara semesta dengan mempertautkannya dengan kondisi wacana Islam dan kebudayaan yang tengah jadi bahan omongan hari ini.

Gus Solah

Belum lama mendapat kabar wafatnya Habib Hasyim Kamal Assegaf Banyuwangi, tadi malam meluncur kabar meninggalnya Kiai Solahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng, adik kandung Gus Dur.

Empat Malam di Jogja

Hari mulai senja. Tetapi bias merah matahari tak tampak di barat. Hujan deras, awan tebal membungkus langit Jawa Tengah, saat kendaraan kami melaju di tol antara Ngawi -Solo. Kilat petir sesekali membuat kaget, lantaran warna peraknya seperti menutup pandangan, sebelum kemudian disusul gemuruh. Setelah dua jam melaju di tol, sampailah kami di Boyolali. Kami segera disergap kemacetan petang hari sekeluar dari tol. Jalanan basah. tersisa waktu sekira dua jam lagi barulah kami akan tiba di tujuan terakhir kami: Yogya.  Kini jalan-jalan jauh lebih padat dari sepuluh tahun silam. Hotel Paku Mas, Jalan Raya Adisucipto Yogya tempat kami akan menginap. Sesungguhnya ini adalah liburan yang telah dipersiapkan tiga tahun lalu oleh isteriku. Ia dengan tekun menyisihkan serupiah demi serupiah hasil dagangan kami yang akan digunakan untuk berlibur bersama ke Kota Yogya. Tiga tahun lalu itu anak kedua kami, Dhiyaunnisa belum lahir. Dalam perjalanan kali ini, dia telah berusia dua tahun ...

habibie

Pak Habibi,, begitulah kami mengenal nama panggilan untuk BJ. Habiebie. Semasa Aku di Sekolah Dasar, sebelum Aku mengerti arti perlunya membaca koran dan pentingnya menonton berita Nasional TVRI, Aku telah diperkenalkan dengan nama Pak Habibi ini. Gambar foto dan namanya terpajang diantara sederet nama dan gambar foto menteri-menteri kabinet Pak Harto yang menghiasi dinding sekolah kami yang penuh bekas coret coretan usil. Ia adalah menteri riset dan teknologi. Kata orang-orang tua kami dulu, Pak Habibi ini orang paling pinter. Karena itu, kalau ada siswa SD yang cerdas, kecerdasannya itu akan dinisbatkan kepada kecerdasan milik Pak Habibi. "Si Anu itu pinter, seperti Pak Habibi..." Bahkan pujian-dan sanjungan yang diberikan kepada seorang bayi yang baru lahir sekalipun, menyematkan nama Pak Habibi. "Selamat ya, lahir cowok, semoga kelak si anak ini jadi orang pinter seperti Pak Habibi.." Begitulah nama Habibi itu menjadi perlambang "anak pintar...

Kenangan Menjadi Santri Sehari Mbah Moen

Hari ini tersiar kabar Kiai kharismatik pemangku pesantren Sarang Rembang Mbah Maimoen Zubair wafat di Makkah saat tengah berhaji. Usia beliau sudah lanjut. 90 tahun kini. Keberangkatan beliau ke baetullah, rumah Allah, kota Makkah yang menjadi jantung religi umat Islam seakan-akan sebuah panggilan untuk bertemu Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Saya punya sedikit saja kenangan tentang Mbah Moen, yang ingin sekali kutuliskan setelah mendengar kabar duka ini. Di lemari kecilku aku mencari sebuah buku catatan perjalanan. buku mungil yang berisi catatan-catatan singkat perjalananku ke suatu tempat antara tahun 2001 hingga 2003. Hari itu Ahad 24 Agustus 2002. Aku merencanakan akan pergi ke sebuah tempat perkampungan nelayan di Sarang. Ini bagian dari rangkaian perjalanan tahap keduaku meliput kegiatan "sedekah laut" masyarakat pesisir utara Jawa yang akan dimuat dalam Laporan Utama Majalah Advokasia Fakultas Syariah IAIN Suka. Pada perjalanan tahap pertama sebelumnya da...

Murid

Putriku yang telah berusia tujuh tahun, Yasi, masuk sekolah mulai hari Senin 15 Juli. Beberapa minggu lalu ibunyalah yang paling sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuknya: sepatu, tas, tempat alat tulis, tempat makanan, tempat minum. Seperti perlengkapan anak yang mau pergi Kemping (Camping). Pagi hari jam 6 sebelum matahari muncul, dia telah bangun tidur, lebih awal dari biasanya, langsung meluncur ke tempat mandi yang telah disiapkan di dalam ember dengan dicampur air panas. Kalau tidak dicampur air panas, pasti dia tidak akan berani menceburkan badannya ke dalam air dingin, apalagi di musim berhawa dingin dalam Bulan Juli ini. Selesai mandi, dia bersembahyang Subuh. Sarapan telah disiapkan, dibeli dari warung di pinggir jalan yang menjual nasi bungkus daun pisang. Hari Senin itu dia mengenakan seragam atasan baju putih dan bawahan rok merah. Warna seragam nasional yang juga dulu Aku kenakan sewaktu di bangku sekolah dasar. Aku berpikir sejenak saat mengamati putriku dal...

Gelandangan

Tiga hari lalu, aku menelepon seorang sahabat lamaku, Gus Ahmad Amin Badrudduja. Dipanggil Gus Duja. Dia sahabat baik sesama gelandangan waktu kami masih di Yogya. Ya, Gelandangan...! Bukan Mahasiswa seperti yang kau kira..! Gus Duja adik dari sahabat karibku yang telah meninggal dunia, Ahmad Adib Saifuddin; Gus Adib. Di Yogya kami benar-benar menikmati hidup sebagai gelandangan. Boleh juga disebut "Gelandangan Intelektual" biar keliatan mentereng. Selain dua bersaudara itu, rekan-rekanku sesama gelandangan yang lain adalah Kawan Mustathok, Kawan Robi yang sudah meninggal dunia juga, dan masih banyak lagi dari mereka yang tidak dapat saya absen nama mereka satu per satu. Dengan Gus Adib ini aku punya hubungan yang unik. Sebagai salah satu rekan kamarku di asrama Utsman Pesantren Wahid Hasyim Gaten, kami sering berjalan berdua ke suatu tempat. Berbicara dari hati ke hati. Kadang-kadang juga berbicara hal-hal remeh dan sepele. Saling mengejek dan membully istilah anak sekar...