Langsung ke konten utama

Postingan

Kenangan Menjadi Santri Sehari Mbah Moen

Hari ini tersiar kabar Kiai kharismatik pemangku pesantren Sarang Rembang Mbah Maimoen Zubair wafat di Makkah saat tengah berhaji. Usia beliau sudah lanjut. 90 tahun kini. Keberangkatan beliau ke baetullah, rumah Allah, kota Makkah yang menjadi jantung religi umat Islam seakan-akan sebuah panggilan untuk bertemu Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Saya punya sedikit saja kenangan tentang Mbah Moen, yang ingin sekali kutuliskan setelah mendengar kabar duka ini. Di lemari kecilku aku mencari sebuah buku catatan perjalanan. buku mungil yang berisi catatan-catatan singkat perjalananku ke suatu tempat antara tahun 2001 hingga 2003. Hari itu Ahad 24 Agustus 2002. Aku merencanakan akan pergi ke sebuah tempat perkampungan nelayan di Sarang. Ini bagian dari rangkaian perjalanan tahap keduaku meliput kegiatan "sedekah laut" masyarakat pesisir utara Jawa yang akan dimuat dalam Laporan Utama Majalah Advokasia Fakultas Syariah IAIN Suka. Pada perjalanan tahap pertama sebelumnya da...

Murid

Putriku yang telah berusia tujuh tahun, Yasi, masuk sekolah mulai hari Senin 15 Juli. Beberapa minggu lalu ibunyalah yang paling sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuknya: sepatu, tas, tempat alat tulis, tempat makanan, tempat minum. Seperti perlengkapan anak yang mau pergi Kemping (Camping). Pagi hari jam 6 sebelum matahari muncul, dia telah bangun tidur, lebih awal dari biasanya, langsung meluncur ke tempat mandi yang telah disiapkan di dalam ember dengan dicampur air panas. Kalau tidak dicampur air panas, pasti dia tidak akan berani menceburkan badannya ke dalam air dingin, apalagi di musim berhawa dingin dalam Bulan Juli ini. Selesai mandi, dia bersembahyang Subuh. Sarapan telah disiapkan, dibeli dari warung di pinggir jalan yang menjual nasi bungkus daun pisang. Hari Senin itu dia mengenakan seragam atasan baju putih dan bawahan rok merah. Warna seragam nasional yang juga dulu Aku kenakan sewaktu di bangku sekolah dasar. Aku berpikir sejenak saat mengamati putriku dal...

Gelandangan

Tiga hari lalu, aku menelepon seorang sahabat lamaku, Gus Ahmad Amin Badrudduja. Dipanggil Gus Duja. Dia sahabat baik sesama gelandangan waktu kami masih di Yogya. Ya, Gelandangan...! Bukan Mahasiswa seperti yang kau kira..! Gus Duja adik dari sahabat karibku yang telah meninggal dunia, Ahmad Adib Saifuddin; Gus Adib. Di Yogya kami benar-benar menikmati hidup sebagai gelandangan. Boleh juga disebut "Gelandangan Intelektual" biar keliatan mentereng. Selain dua bersaudara itu, rekan-rekanku sesama gelandangan yang lain adalah Kawan Mustathok, Kawan Robi yang sudah meninggal dunia juga, dan masih banyak lagi dari mereka yang tidak dapat saya absen nama mereka satu per satu. Dengan Gus Adib ini aku punya hubungan yang unik. Sebagai salah satu rekan kamarku di asrama Utsman Pesantren Wahid Hasyim Gaten, kami sering berjalan berdua ke suatu tempat. Berbicara dari hati ke hati. Kadang-kadang juga berbicara hal-hal remeh dan sepele. Saling mengejek dan membully istilah anak sekar...

My Book

ISBN Bukuku yg akan terbit Aku memberi judul buku ini: Pemuda Ansor NU dalam Kemelut Jaman Gestok di Bali 1965-1966. Aku memulai penulisan buku ini tahun 2012 dan baru dapat kurampungkan tahun 2019 ini. Cukup lama, bukan? Muasal studiku sebetulnya bukan sejarah, melainkan kajian budaya, konsentrasi budaya massa. Sewaktu aku mengikuti progam pascasarjana, ada satu mata kuliah pilihan bernama "Kekerasan Politik dan Politik Ingatan" disponsori oleh Pusat Sejarah dan Etika Politik (PusDep) Yogyakarta. Aku ikuti matakuliah yang diampu seorang pakar Dr. Budiawan ini guna memperdalam minatku pada sejarah.    Ketika mendapat gagasan menulis tema sejarah kekerasan politik, Aku mencoba-coba memberanikan diri menulis tema yang barangkali sudah tidak populer lagi seputar kekerasan '65 di Bali. Tema kekerasan '65 ini sudah banyak diulas, terutama oleh rekan saya sendiri I Ngurah Suryawan. Aku mencoba memilih tema yang belum ditelusur dalam kajian '65 di Bali, tetapi su...

Will

Aku sangat terhibur dengan video viral pemuda 17 tahun Willconnolly yang nekat menceplok sebutir telor mentah di kepala senator Queensland Fraser Anning saat tengah diwawancara. Tak jemu Aku putar dan putar lagi video ini, membayangkan berbutir-butir telor mentah diceplok di kepala senator rasis itu. Alangkah indah pula jika ada dari pemuda-pemuda kita yang nekat malakukan hal serupa di kepala para anggota dewan atau para koruptor yang gemar cengengesan di muka kamera saat diwawancara awak media. Aksi Will yang kemudian dijuluki eggboy bermula dari kejengkelannya atas komentar si Fraser mengenai tragedi penembakan jamaah sholat jumat di dua masjid Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di Cristchurch New Zealand pada 15 Maret lalu. Seperti diketahui, penembakan bermotif kebencian etnik yang dilakukan oleh Brenton Tarrant itu menewaskan seketika 49 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Aksi itu dilakukan saat jamaah tengah mendengarkan khotbah Jumat. Dunia terkejut. Aku juga..!...

Kesendirian

Dari jendela lantai 5 hotel swiss-belinn, sepetak sawah seluas kira-kira dua hektar itu, tampak bagai permadani antik di tengah kepungan bermacam bangunan-bangunan beton di sekelilingnya. Di tengah kota Surabaya. Ada tanaman padi yang masih tegak di sana. Ditanam tangan-tangan petani, jika masih mungkin layak disebut petani, yang masih menggantung harapan penghidupannya dari sawah itu. Selebihnya, di luar musim tanam dan waktu panen, petani ini entah bekerja sebagai apa: tukang tambal ban kah? Pulisi cepek kah? Buruh pabrik kah? Tukang parkir liar kah? Pegawai negeri kah? Persawahan di sisi timur Swiss Bellinn Surabaya/ 12-12-2018/foto by samsulbahri Di tengah rimba kota, sawah jadi barang antik. Bisa jadi daya tarik bagi wisatawan yang kebetulan menyaksikan pemandangan ini. Bisa jadi daya tarik bagi si pemodal rakus yang melirik dan menaksir berapa milyar dibutuhkan uang untuk merebut dan mengalihfungsikan sawah itu jadi ladang bisnis yang tidak lagi membuahkan bulir padi m...