Langsung ke konten utama

Postingan

Jong Un Jumpa Trump

Ahai... sungguh lucu dunia ini. Dua pemimpin negara yang lama berseteru, Amerika-Korea Utara mengadakan kopi darat di Pulau Sentosa Singapura, 12 Juni lampau. Kim Jong Un pewaris negeri Stalinis akhirnya berjabattangan hangat dengan si Pikun Donald "duck" Trump. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, dua orang ini sama-sama getol saling ejek. Apa yang mereka bicarakan di pulau hasil reklamasi yang konon pasirnya diselundupkan dari Indonesia itu? Kesimpulanku begini: Trump: Hei men, mau tidak kamu musnahkan instalasi nuklirmu? Jong Un: Beres... kamu sendiri kan sudah lihat aku bom seluruh pangkalan yang kujadikan tempat ujicoba nuklirku. Trump: Okelah kalao begitu, aku bakal bantu kamu keluar dari krisis ekonomi... Korut memang sedang menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan, kata sebuah analisa. Jumlah penduduk usia kerja bertambah saban tahun, namun lapangan kerja tak bertambah tambah. Bertahun-tahun sangsi ekonomi yang ditimpakan pada Korut membuat negara itu k...

Adnan Marhaban

Kakek tua teman ngobrolku itu telah tiada. Kamis pagi 24 Mei kemarin dia hembuskan nafas penghabisan di rumah tinggalnya, di sebuah kampung padat penduduk, dengan gang-gang sempit: Kampung Petukangan Loloan Barat Jembrana. Aku belum sempat mengunjunginya lagi, setelah perjumpaan terakhir dengannya dua hari jelang Nyepi dalam bulan Maret silam. Saat itu aku datang ke rumah Kakek Adnan bersama Aiko Kurasawa yang memang meminta saya menemaninya menemui Kakek Adnan. Sudah tidak terhitung kalinya aku datang berkunjung secara pribadi ke rumah Kakek Adnan, semenjak pertemuan pertamaku empat tahun silam, dimana aku meminta kesediaannya menjadi narasumber penelitianku tentang Pergulatan Pemuda Ansor NU di Jembrana dalam tahun kecamuk 1965-1966. Penelitianku yang sudah aku mulai sejak tahun 2013 itu sendiri aku beri judul: Pemuda Ansor NU Dalam Kemelut Jaman Gestok di Bali. Kakek Adnan adalah salah seorang narasumber maha penting dalam penelitianku ini. Ia menjabat sebagai sekretaris Pem...

Dhiyaunnisa

8 Mei. Lahir putriku yang kedua. Setelah isteriku bertarung hebat menahan sakit. Pada jeritan terakhir jam 1.30 tengah malam itulah, bayi yang dikandungnya tiba di dunia. Semula, bayiku ini akan aku beri nama "Sari". Lengkapnya "Najida Sari". Tetapi orang-orang dekat di sekelilingku termasuk isteriku tidak setuju dengan nama ini. "Sari" mungkin nama yang terkesan terlampau kampung. Padahal menurutku "Sari" itu amatlah bagus artinya. Tambahan lagi, Sari itu adalah inisial singkat dari nama saya : Samsulbahri. Sehubungan dengan hal itu, jika sebelumnya isteriku yang berjuang melahirkan si bayi, kini giliran akulah yang harus berjuang mencari nama untuk si bayi mungil yang membuat hati kami berbunga- bunga ini. Pagi setelah subuh. Di hari terakhir kami tinggal di rumah sakit umum Kertayasa, dan di hari dimana aku harus menyerahkan nama si bayi untuk dibuatkan surat kenal lahir oleh pihak rumahsakit, aku harus berpikir ulang mencari bakal nama ...

Pram dan Aku

Hari ini 30 April, tanggal wafat Pramudya Ananta Toer. Sastrawan paling produktif di Indonesia yang pernah aku kenal dan aku baca karyanya. Catatan ini akan menguraikan awal perjumpaanku dengan karya-karya Pram, dan bagaimana karya-karya itu telah turut membentuk jalan pikiranku selama aku menjadi mahasiswa di Jogja. Pram  adalah nama baru yang kukenal setelah aku hijrah ke Jogja. Di pesantren, semasa duduk di bangku SMP, sastrawan yang banyak beredar karyanya di toko buku dan terpajang di perpustakaan hanyalah mereka yang dari angkatan Balai Pustaka; sebut nama segelintir dari mereka; Hamka, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisyahbana. Seingatku, karya novel pertama yang aku baca sewaktu masih di bangku SMP adalah karya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Lalu Layar Terkembang karya Sutan Takdir, dan terakhir Kasih Tak Sampai karya Marah yang tak gampang marah. :) Nama Pram tak sekalipun pernah kudengar. Di buku pelajaran bahasa dan sastra juga ...

Pendinginan

Dari jalan Gatsu Denpasar butuh waktu dua jam lagi untuk sampai di lokasi vila Green View Ubud Gianyar. Jalanan masih terbilang ramai selepas perayaan tahun baru. Hujan gerimis menemani sepanjang jalan. Mula-mula kami agak pesimis melihat kondisi jalanan menuju tujuan. Banyak tanjakan dan turunan curam. Menerobos jalan perkampungan. Lantaran fisik yang penat, perjalanan menuju vila terasa memakan waktu. Lebih lagi, 500 meter menjelang tiba di lokasi, kami makin dibuat ciut nyali, oleh karena peta di layar telpon pintar meunjuk ke sebuah jalan kecil yang di sisi kirinya ditumbuhi ilalang tinggi. Jalan yang membelah sawah ini hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat, dan mustahil dapat berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawan. Hanya ada satu papan nama kecil yang memberikan petunjuk bahwa jalan ini akan menuju vila Green View. Kami makin dibuat penasaran karena setelah beberapa meter menyusuri jalan kecil itu, lokasi vila tak kunjung nampak. Justeru yang terlihat meno...

JERUSSALEM

"Si tua yang pikun" (dotard)..!! ejek pemimpin Korea Utara Kim Jong-un kepada presiden Amrik Donald Trump atas sikap Trump yang memberi pengakuan resmi atas Jerussalem sebagai ibukota Israel. Pernyataan itu ditandatangani Trump pada 6 Desember lalu. Aiiiihhh.. 6 Desember, bukan 5 Desember. Kalau 5 Desember berarti hari yang disebut "bersejarah" oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu akan bersamaan dengan tanggal hari lahir saya..!!! Itu penghinaan buat saya..!! Meski saya tidak pernah peduli soal tanggal hari lahir, tapi saya tetap akan ikut merasa terpukul oleh dua hal: pernyataan Trump dan tanggal bersejarah itu... Masih beruntung 6 Desember. Andaikata tanggal 6 bulan Desember bisa marah.. Andaikata tahun 2017 bisa marah, maka sudahlah pasti bulan dan tahun ini akan marah karena telah dijadikan sebagai hari "bersejarah" oleh keputusan yang melanggar hukum internasional. Waktu Netanyahu diundang ke Paris dan menyampaikan kegembiraan ...

V Money

Apakah revolusi terbesar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini??? Ialah bergantinya sistem alat transaksi dari "uang fisik" ke 'uang maya' alias virtual money alias V-money, sebagian menyebutnya cryptocurrency. Dugaan saya, dalam beberapa tahun mendatang (mungkin 20 tahun lagi) uang fisik (kertas dan logam) akan hilang dari peredaran. Atau jika tidak hilang, penggunaannya semakin berkurang. Ini semua gara-gara lahirnya teknologi komputerasi smartphone yang makin banyak digunakan oleh anak cucu Adam-Hawa di seluruh dunia. V-money Saya adalah contoh orang paling katrok. Alias ketinggalan jaman. Handphone yang saya pakai masih Nokia 1200 yang kubeli tahun 2008 silam. Ketika saya berjumpa dengan kawan-kawan dalam sebuah pertemuan, mereka sering menanyakan pada saya: We A mu berapa???  (WA = whats app), teknik chatting real time dengan smart phone. Lantas saya bilang: "saya tak punya WA. Henpon saya masih Nokia. Kalau kirim kabar SMS saja....