Langsung ke konten utama

Postingan

Aiko

Saya masih akan melanjutkan menuliskan bagian-bagian sub bab pembahasan mengenai mobilisasi Pemuda (Ansor NU) dalam kasus pembunuhan massal PKI di Jembrana Bali, ketika pada minggu terakhir Januari ini Aiko Kurasawa datang ke Jembrana Bali. Seperti janjian kami tiga bulan sebelumnya, bahwa kami akan bertemu dan berdiskusi tentang beberapa hal mengenai kasus tragedi pembunuhan massal di Bali. Siang itu, 25 Januari, sekitar pukul dua, Aiko menelpon saya. Dia memberitahu bahwa dia sudah tiba di Jembrana dan sedang berada di rumah seorang wartawan Kompas; Putu Fajar Arcana. Saya pun meluncur ke kediaman Mas Putu Fajar. Saya katakan kepada Aiko di telepon, saya mengenal Putu Fajar lewat tulisan-tulisannya di Kompas, tetapi saya belum pernah bertemu muka dengannya. Hujan deras baru saja reda di Kota Negara. Tiba di Jalan Danau Beratan alamat rumah Putu Fajar, kami bertemu. Aiko mengajak pergi ke suatu tempat; coffee shop, atau tempat nongkrong umum lainnya agar kami dapat berdiskusi. Tet...

Kita Akhiri Narasi Toleransi

"Kerukunan umat beragama," "toleransi","saling menghargai perbedaan", "Pluralisme"  adalah sederet kata-kata klise. Basi. Kata mati yang berkali-kali dihidupkan kembali. Terutama saat penyelenggaraan hari-hari besar agama. Kata mati ini sudah menempel di kepala dan mulut kita. Susah kita buang. Karena terasa selalu manis diucapkan. Kata mati itu menjadi terus hidup karena selalu dihadapkan pada anti-tesa yang aktual: "Debat kebolehan seorang muslim mengucapkan Selamat Natal misalnya. Lalu peristiwa perusakan rumah ibadah oleh sekelompok umat lain. Teror bom berlatar sentimen agama. Kebencian atas etnis tertentu, dan lain-lain. Saat itulah, kata mati itu seperti menemukan sambungan "aliran nafasnya" kembali. Kaum liberal agama (di Islam diwakili oleh antaralain Jaringan Islam Liberal/JIL), sangat gemar berenang-renang dalam lautan luas wacana pluralisme, sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka harus segera mencari pulau...

Selamat Jalan Pak George Junus Aditjondro

Pak George wafat. Kabar ini kutahu baru saja. Saat tanpa sengaja saya buka FB. Muncul sebuah posting dari putranya, Enrico Aditjondro: Pak George telah pergi. Tepat di hari perayaan HAM internasional, 10 Desember. Aku jadi teringat tiga hari lalu. Sore Kamis. Itu berarti dua hari sebelum Pak George pergi buat selamanya. Entah kebetulan atau bagaimana. Aku buka email. Kuhapus beberapa kiriman tidak penting. Kubaca beberapa surat lama. Salahsatunya adalah surel balasan yang kukirim buat Pak George. Waktu itu Pak George minta saya cerita mengenai konstelasi persaingan politik di NTB. Antara elit berlatar agama dan nonagama. Surel ini bertanggal 25 Agustus 2010. Perjumpaan fisikku yang terakhir dengan beliau yakni dalam bulan Juni 2009. Waktu itu aku baru beberapa hari lalu merampungkan ujian tesisku. Setelah tugas akhirku selesai, aku merasa punya banyak waktu luang buat jalan-jalan. Di sela waktu luang itu, aku sempatkan berkunjung ke rumah kontrakan Pak George di Deresan, tak ja...

Ulang Tahun Dengan Tanam Pohon

Sedari kecil, aku tak pernah merayakan ulang tahun kelahiranku. Orang tuaku juga tidak pernah merayakannya untukku. Waktu kecil dulu, sebagian kecil teman-teman sekolahku dari keluarga orang-orang berada, merayakan ulang tahun kelahiran mereka. Tapi aku sendiri tak merayakannya. Kebiasaan merayakan ulang tahun kelahiran sendiri, mulai makin kukenal sejak aku duduk di bangku kuliah. Sebagian teman-teman kuliahku merayakan hari kelahiran mereka. Macam-macamlah bentuk perayaan itu. Ada yang mengajak makan di kantin kampus. Ada yang membuat acara kecil-kecilan dengan kue tart di rumah kos. Ada pula yang dengan sengaja pergi ke tempat-tempat wisata. Ritual yang paling sering dilakukan saat merayakan ulang tahun teman-teman kuliahku adalah ketika si Pulan yang berulang tahun dikerjain dengan diguyur air seember, dilempari telor mentah di kepalanya, dan ditaburi tepung di sekujur badan. Menurutku ini pekerjaan sia-sia. Meski tujuannya hanya untuk saling mempererat tali persahabatan ...

Pungli Oh Pungli

Mendengar pemerintah Jokowi-JK membentuk Satgas Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar), saya jadi tidak tahan untuk segera menceritakan pengalaman pribadi saya terkait kasus pungli yang menimpa saya dan menimpa banyak orang-orang lain. Kejadian ini fakta. Saya tidak mengada-ada. Saya tulis dalam catatan tangan buku harian saya. Baru kali ini saya dapat kesempatan untuk mengunduhnya ke blog pribadi saya. Terjadi pada Senin 2 November 2015. Hari itu saya mendatangi kantor Samsat Buleleng Singaraja untuk keperluan cabut berkas mutasi dua buah kendaraan   light truck Mitsubishi tahun 2007. Dua kendaraan truk itu dibeli kerabat saya masing-masing tahun 2010 dan 2011 atas nama I Putu Lastika dan Ni Made Sriyeni, keduanya beralamat di Buleleng. Kerabat saya bermaksud memutasi kendaraan itu ke alamat asal di Negara Jembrana dengan tujuan untuk memudahkan proses pembayaran pajak tahunan dan KIR per enam bulan. Meski pembayaran pajak dilakukan sekali setahun, dan ...

Kota Tegal, Kota Yang Hangat

Di ambang petang, Kota Tegal berparas bak putri jelita. Lampu-lampu hias warna warni sepanjang Jalan Ahmad Yani, menciptakan suasana kota menjadi benar-benar menawan.  Saya sudah tidak sabar untuk segera belusukan menyusuri pinggiran jalan-jalan kota. Meski rasa pegal dan capek belum pulih benar setelah perjalanan panjang dari Bali ke Tegal yang memakan waktu hampir 20 jam. Saya, bersama isteri, putriku Sayasi yang berumur empat tahun dan adik isteriku Yarham, tiba di Kota Tegal tepat pukul 12 siang hari Jumat 22 Juli. Berbekal petunjuk dari jasa wisata online (traveloka), kami langsung menuju sebuah penginapan (Hotel Semeru) di jantung kota. Agak mengecewakan juga buat kami karena kondisi penginapan yang kurang sesuai harapan. Barangkali ini hotel tertua yang pernah ada di Kota Tegal. Kondisi bangunan induknya masih bergaya lama. Pintu-pintu dan daun jendelanya besar-besar. Kemungkinan penginapan ini sudah berdiri sejak tahun 60-an atau lebih ke belakang lagi, dala...