Langsung ke konten utama

Postingan

Kota Tegal, Kota Yang Hangat

Di ambang petang, Kota Tegal berparas bak putri jelita. Lampu-lampu hias warna warni sepanjang Jalan Ahmad Yani, menciptakan suasana kota menjadi benar-benar menawan.  Saya sudah tidak sabar untuk segera belusukan menyusuri pinggiran jalan-jalan kota. Meski rasa pegal dan capek belum pulih benar setelah perjalanan panjang dari Bali ke Tegal yang memakan waktu hampir 20 jam. Saya, bersama isteri, putriku Sayasi yang berumur empat tahun dan adik isteriku Yarham, tiba di Kota Tegal tepat pukul 12 siang hari Jumat 22 Juli. Berbekal petunjuk dari jasa wisata online (traveloka), kami langsung menuju sebuah penginapan (Hotel Semeru) di jantung kota. Agak mengecewakan juga buat kami karena kondisi penginapan yang kurang sesuai harapan. Barangkali ini hotel tertua yang pernah ada di Kota Tegal. Kondisi bangunan induknya masih bergaya lama. Pintu-pintu dan daun jendelanya besar-besar. Kemungkinan penginapan ini sudah berdiri sejak tahun 60-an atau lebih ke belakang lagi, dala...

Kajen

Kalau saja saya tidak jadi ikut ngantar manten ke Pati hari Jumat kemarin, mungkin saya tidak akan pernah punya kesempatan berkunjung ke Desa Kajen. Sangat beruntunglah saya jadi ikut ke Pati. Tujuan mula kami adalah menghanter kedua mempelai Aqib dan Rizka ke Desa Asempapan Trankil tempat diselenggarakannya walimatul ursy. Rombongan kami yang sejumlah lebih dari 25 orang dewasa ditambah beberapa orang kanak kanak itu tiba agak molor jam 1 malam waktu Jateng. Jadilah sambutan manten berlangsung syahdu tengah malam diramaikan oleh pukulan rebana dan bacaan sholawat nabi di saat warga dusun tengah tidur lelap. :) Kami hanya sempat istirahat 2 jam setelah perjalanan jauh Bali-Pati yang memakan waktu 17 jam dengan mobil travel. Paginya, kami harus berdandan untuk mengikuti acara walimah. Rasa capek di badan terobati oleh nikmatnya santapan sarapan pagi yang disuguhkan sohibul baet keluarga Aqib. Menunya sederhana, antaralain; oseng rebung rempeyek udang, tempe tepung goreng. Ny...

Eco

Umberto Eco nama yang tidak asing. Saya berjumpa dengan sosok ini (bukan jumpa fisik) melalui matakuliah semiotika sekira tahun 2006 silam. Adalah Pak St. Sunardi yang memperkenalkan nama Eco. Dari sana saya ketemu sebuah novel posmo (fiksi berbasis sejarah) karya Eco berjudul The name of the Rose (namanya Mawar) judul asli dalam bahasa Itali, Il Nom della Rossa. Saya meminjam terjemahan Indo buku ini dari rekan Wahyudi. Di dalam terjemahan Indonesia yang terbit di Yogya ada kata pengantar menarik yang ditulis Pak Sunardi. Saya larut ketika membaca novel ini. Novel yang mengisahkan tentang kejahatan pembunuhan di sebuah biara. Membaca Il nome, kita serasa dibawa ke abad masa silam yang sudah jauh dilupakan: abad pertengahan. Eco dikenal sebagai sosok multi bakat. Dia seorang filsuf, ahli sejarah abad tengah, teoritikus semiotik dan penulis sastra (novel). Sayang sekali saya tidak dapat menjumpai karya-karya terjemahan Eco yang lain selain Il nome. The Island of The Day Befo...

Iwu

100 Hari Iwu Sabtu 4 April, pukul 4.30 sore saya berangkat dari Bali menuju Lombok setelah mendapat kabar saudaraku, Khairul Fahmi (Iwu) dalam kondisi kritis. “Sudah kecil harapan” kata kabar dari seberang. “Mungkin dia akan meninggal dalam waktu dekat,” pikirku. Saya bergegas… meminta ijin pulang sendirian, keperluan menjenguk Fahmi. Hari beranjak gelap ketika saya masih di sekitar Tabanan. Dari kaca kendaraan yang saya tumpangi, di langit tampak bulan dengan cahayanya yang murung. (belakangan saya ketahui pada hari itu sedang gerhana bulan). Iseng saya membuka facebook, melihat-lihat halaman timeline Fahmi dengan postingan terakhirnya berupa foto-foto lama kenangan pendakian puncak Kinabalu. Pada gambar foto ini, ia masih tampak gagah dan tegap. Ke belakang adalah foto-foto bersama keluarga, juga bersama Meneg BUMN Dahlan Iskan, lalu foto saat mendatangi TPS pilpres 2014. Pada gambar foto ini, wajahnya sudah nyaris tidak dapat saya kenali; berkacamata, kurus, dengan raut waj...

Kegembiraan Politik

Saya contohkan bagaimana hasil tanding Brasil vs Jerman yang berakhir dengan kemenangan Jerman 7-1 pada malam sebelum hari pencoblosan. Di halaman FB berita kemenangan Jerman diplintir menjadi: "Brasil Bantai Jerman" versi Obor Rakyat, tabloid yang selalu mendengungkan berita bohong untuk kandidat nomor 2. (catatan ini masih berlanjut)

Inilah Negeri Para Bandit

Inilah negeri para Bandit Birokrasi sengaja dibikin rumit Sogok dan suap membelit-belit Inilah negeri para Bandit Para pejabatnya berperut buncit Sementara rakyatnya dibiarkan lapar dan sakit-sakit Inilah negeri para Bandit Mencari keadilan sangat sulit Kebenaran terhimpit kepentingan rakus kaum berduit Inilah negeri para Bandit Para orang tua menjerit oleh biaya sekolah anak-anak mereka yang melangit Inilah negeri para Bandit Pemerintah gencar berceramah, menganjurkan agar rakyat hidup irit Sementara mereka gemar plesiran ke luar negeri Inilah negeri para Bandit Aparatus negaranya makin tulalit Inilah negeri para Bandit Tempat orang-orang vokal dan kritis dituduh sebagai pengikut Partai Palu Arit II Inilah negeri para Bandit Tempat orang-orang kaya menghambur uang dan kartu kredit Inilah negeri para Bandit Kaum kayanya sangat pelit Para dermawan makin sedikit Para wakil rakyat bermurah hati hanya di musim kampanye Inilah negeri para Bandit Kaum aga...

Asembagus

Di bulan Mei, angin bertiup lebih kencang menggeser letak dedaunan kering. Sesekali debu beterbangan seperti menampar-nampar wajah hinggap ke bola mataku. Keadaan ini mengingatkan aku pada kenangan berpuluh tahun lalu: 1993, tahun pertamaku di tempat ini. Di musim angin dan debu itu, penyakit mata dan kudis tengah mewabah, menjangkit bergiliran satu demi satu para santri. Aku masih ingat bagaimana cuaca kering itu membuat pecah-pecah telapak kaki, dan terasa sangat perihnya saat kucelupkan ke dalam air. Senja 9 Mei aku tiba di Pesantren Salafiyah Asembagus untuk memenuhi undangan perayaan 1 abad usia pesantren. Hari beranjak gelap. Selepas shalat maghrib dan berziarah ke makam para pendiri pesantren, aku berjalan sendiri menelusur jalanan mencari warung nasi untuk memenuhi hajat perutku yang keroncongan. Dari masjid itu, terdengar seorang ustad mendaras kitab kuning. Aku teringat guruku almarhum Ustadz Dhofir Jazuli, seorang guru tua dengan suara khas yang diselingi batuk-...