Langsung ke konten utama

Postingan

Lebaran

Tahun ini saya merayakan lebaran di kampung. Agak sedikit istimewa karena saya pulang kampung bersama isteri dan putriku yang baru saja mulai bisa jalan. Seru takbiran dari masjid dan surau, keramaian di jalan-jalan, berziarah ke makam moyang adalah sekelumit peristiwa lebaran yang terus berulang, dan senantiasa membawa selintas kenangan kepada masa kecil. Tetapi kesyahduan suasana lebaran di masa kecilku tak kujumpai hari ini. Tak ada nyala obor yang dijunjung tangan anak-anak yang menghias sudut - sudut jalan. Tak ada. Sementara itu, gema takbir dari masjid dan surau tenggelam oleh kebisingan knalpot sepeda motor dan keriuhan musik pop dangdut yang diputar para remaja di pinggir jalan. Suara petasan juga sudah kian memekakkan telinga. Saat saling bersalaman usai shalat Ied, saat itulah saya bersua dengan banyak wajah; wajah yang saya kenali yang sangat kukenal dan yang tidak saya kenal. Sebagian mereka tampak sudah sangat tua. Adapula yang tampak seperti kelebihan ber...

PRJ Tanpa Kerak Telor

Dalam bulan Juni 2010 silam, saya berkesempatan jalan jalan di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair. Dengan bus transjakarta saya meluncur dari Harmoni ke Senen, trus ke jurusan Ancol dan turun di Jembatan Merah. Dari Jembatan Merah naik oplet ke Kemayoran tempat PRJ dihelat saban tahun. Hari masih terlalu siang saat saya tiba di arena PRJ, sekitar jam 2 siang. Loket penjual tiket belum lagi buka. Siang yang terik dan udara Jakarta yang panas membuat tenggorokan saya berteriak minta minum. Beruntung ada pedagang kelapa muda di sisi jalan di luar arena PRJ, dan kesana lah saya mampir, sembari mencari tau jam berapa loket PRJ buka. Maklum ini pertamakali saya ke PRJ. Tak sabar tenggorokan kering, satu butir kelapamuda ludes. Terasa pulih sudah tenggorokan ini. Pada sekitar jam 4 lewat barulah loket penjualan tiket PRJ buka. Pengunjungnya luar biasa ramai. Tempat parkir kendaraan yang luas hampir semua terisi. Dan saya termasuk salah satu pengunjung yang paling aw...

Masjid Masjid di Mana mana

Dimana-mana umat muslim sangat gemar membangun masjid. Ukuran bangunannya terkadang tak kepalang tanggung. Kebanyakan maunya lebih dari satu lantai. Dana yang diperlukan untuk memenuhi harapan membangun itu sudah pasti jauh melebihi kemampuan sumber dana masyarakatnya sendiri. Maka tak jarang saya menjumpai bangunan masjid yang setengah jadi. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merampungkan seratus persen. Itupun bergantung pada ketekunan pengurus masjid mencari dana ditambah kejujuran mengelola. Jika sebaliknya, maka bangunan masjid yang setengah jadi itulah hasilnya. Tak jarang dalam sebuah himpunan jamaah yang tengah bersama-sama menyelesaikan pembangunan masjid, timbul friksi, selisih pendapat dan pendirian, yang pada akhirnya memunculkan gosip dan fitnah antar sesama. Ini kejadian yang lazim dimana saja. (Beda kali ya, jika yang bangun masjid itu satu orang kaya raya yang tidak butuh kepanitiaan dan sanggup merogoh kocek pribadi untuk bikin masjid ..) Masjid tetapla...

Minyak oh Minyak

Sepekan sebelum isu harga bahan bakar minyak (BBM) akan dinaikkan pemerintah, stasiun pom bensin dan solar di sekitaran kota ini, Kota Negare Bali, lebih sering tutup dengan alasan persediaan premium dan solar habis. Sangat boleh jadi ini hanya strategi dagang yang berpegang pada prinsip 'mengambil sebanyak-banyaknya kesempatan dalam kesempitan'. Huhh! Berdasar rencana (dan ini hanya isu belaka. Bahasa kerennya "sebatas wacana"), pemerintah akan menaikkan harga BBM pada awal Mei ini dengan skenario sebagai berikut: kenaikan harga ditetapkan dari 4500 per liter menjadi 6500, dikhususkan bagi kendaraan privat roda empat. Sementara bagi sepeda motor dan angkutan publik harga ditetapkan di level 4500 ato tidak dinaikkan. Skenario ini keliatan masuk akal, adil, dan menguntungkan kedua pihak (negara dan rakyat). Menguntungkan bagi negara secara politik dan sosial sebab dengan langkah ini gejolak masif (negatif) yang biasa timbul sebagai ekses kenaikan BBM tentu tak a...

Misalkan Nyepi Empat Kali Setahun

Ini kali pertama saya merasakan suasana Hari Nyepi di Bali. Semenjak tengah malam, jalanan mulai lengang. Tak sebuah pun kendaraan melintas. Pada pagi harinya, jalan di kampung kami yang biasa bising kendaraan oleh beragam aktivitas harian, juga lengang. Hanya anak-anak yang berkeliaran di jalan, mengayuh sepeda mini, atau berlari-lari kecil. Sebagian warga lebih memilih berdiam di dalam lingkungan rumah. Hanya satu dua orang tetangga Hindu yang keluar rumah, sekedar mencari pakan untuk ternak. Selebihnya adalah suasana lengang yang berbeda dari hari-hari biasanya. Pada malam hari suasana kian lengang karena lampu-lampu penerangan jalan dipadamkan. Saya sudah lama merindukan keadaan semacam ini; suasana yang sunyi, yang mengingatkan saya pada masa kecil di kampung, di sekitar tahun 80-an, ketika di jalanan belum bejibun kendaraan, dan lampu PLN sesekali padam. Kami biasa bermain di tengah jalan raya; gobak sodor dan sepakbola. Jikapun ada kendaraan yang lewat, barulah kami menyingk...

Keseimbangan

Untuk Hugo Chavez Hugo Chavez meninggal! Itulah yang saya baca di laman situs BBC sambil berbaring di kamar tidur. Dan saya kaget! Pemimpin yang populer itu meninggal? Beberapa hari terakhir saya membaca berita mengenai kembalinya Chavez dari Cuba, negara sekutu dekat Venezuela, setelah menjalani perawatan penyakit kankernya. Terakhir saya melihat foto Chavez berbaring dan tersenyum ditemani dua orang putrinya. Itu foto yang beredar di beberapa situs berita yang menggambarkan kondisi perawatan Chavez. Saya sudah lupa kapan pertama kali mengenal orang beken ini. Kalaulah tidak salah, kira-kira di tahun 2002, ketika saya menulis sebuah artikel berjudul "Dilema AS" yang dimuat koran Duta Masyarakat. Pada artikel itu, saya memasukkan nama Hugo Chavez. Selebihnya, saya sering membaca beberapa sikap kontroversialnya terkait kebijakan luar negeri Amerika, baik menyangkut invasi ke Irak dan hal lainnya. Ia menyebut nama George Walker Bush, pemimpin AS yang gemar perang itu se...

Pagi

Hari-hari kita dimulai dari waktu pagi. Saat udara terasa sejuk dan sinar matahari belum garang. Badan terasa segar sehabis bangun tidur dan pikiran bercahaya. Semasa kuliah dulu, saya sering memanfaatkan waktu pagi hari untuk membaca, menulis artikel, atau berjalan-jalan kecil di jalanan yang belum ramai. Kalau ada sempat, asyik juga memanfaatkan waktu pagi blusukan ke pasar tradisional, mencari kudapan tiwul untuk sarapan pagi. Alangkah sangat baik memulai hari dengan pikiran yang damai. Rugilah orang-orang yang menyia-nyiakan waktu pagi, yakni mereka yang memulai pagi hari dengan perasaan cemberut, pikiran kusut, kemarahan, dan caci-maki. Mereka yang memulai pagi dengan pikiran kusut, kemarahan, dan caci maki, pertanda tercabutnya keberkahan dari hidupnya. Hmmm... Saya hanya ingin berbagi kebajikan yang kecil ini: Mulailah pagi hari Anda dengan pikiran yang damai sedamai hawa pagi itu sendiri. Jika di hadapan Anda setumpuk persoalan menggunung, memulai hari dengan secer...