Langsung ke konten utama

Postingan

Manfaat Puasa yang Saya Rasakan

Puasa adalah ibadah ruhani yang punya dampak bagi jasmani. Demikian saya ingin menyebutkan pengertian hadis Nabi "Berpuasalah niscaya engkau akan merasakan manfaatnya bagi kesehatan" ( Shuumuu tashihhu ). Saya sendiri merasakan manfaat puasa seperti ujaran Nabi itu. Ceritanya begini; dulu sebelum nikah, berat bersih badan saya hanya 47 kilogram. Lima bulan setelah menikah bertambah menjadi 55 kilogram. Dan setahun kemudian melonjak tajam menjadi seberat 68 kilogram Itu adalah berat badan tertinggi yang pernah saya capai. Akibatnya, banyak celana pantalon dan baju saya yang tiba-tiba terasa sesak dan tidak menyenangkan untuk dikenakan. Nomor pinggang celana saya semula 27 - 28 senti. Setelah berat badan saya meningkat menjadi 55 hingga 68, nomor pinggang celana yang bisa ditoleransi selebar 34 senti. Banyak yang kaget melihat perubahan drastis bentuk tubuh saya yang kelewat gemuk. Seringkali ungkapan takjub melihat perubahan bentuk fisik saya menjadi pembuka dalam setia...

Fasting

Year to year after the time of reformation, as we entering Ramadan month, Moslem in Indonesia have no agreement in determining of the beginning. Two great Moslem organization, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama which is now become main supporter of government policies always in controversial. This year of 2012, Muhammadiyah early day had give announcement that the beginning of fasting fall on July 20 based on the counting (hisabiyah) method that at that time first Ramadan right to come, while Nahdlatul Ulama itself still waiting clarity whether the crescent appear or not in July 20, it is based on the literary revelation (hadits) which was said "Do fasting after seeing the appearance of crescent, and do break fast if you see it. However, what if the crescent could be seen of cloudy sky? So complete your sum of fasting (30 days)". The root of problem of this distinction is so clear. It is not lay in first of Ramadan but when to begin fasting. Both (NU Muhammadiyah) agreed t...

Anak Anak Masa Depan

Anakku... Engkau lahir pada jam 3 pagi. Saat embun memeluk erat dahan dan dedaunan, dan separuh penghuni bumi lelap. Lengking tangismu seperti suara gaib dari kejauhan. Aku tak bisa menahan cucuran airmata kebahagiaan kali pertama menimangmu, sambil membisikkan nama kebesaran Tuhan di kedua telingamu. Aku bersyukur, Anakku, engkau lahir selamat, setelah sekira sembilan bulan lebih sebelas hari lamanya ibumu bergulat dengan rasa pahit, dan nyeri yang luar biasa. Terkadang, ibumu tak bisa makan enak, kerap bangun malam dan muntah-muntah. Bahkan pada bulan keempat kehamilan ibumu, dokter menyarankan rawat inap karena engkau dan ibumu harus dipulihkan. Anakku... Alangkah bahagia menatap matamu yang bening. Aku seperti memandang telaga dengan mataair yang jernih dengan ikan-ikan yang berenang. Kepadamu, aku ingin mendendangkan lagu-lagu dari masa lalu, pujian-pujian kepada orang-orang suci, dan tembang-tembang yang digubah para wali, untuk mengisi kebahagiaanku yang melimpah. Pada ...

Asembagus

Langit masih menyisakan mendung. Hujan sepertinya baru saja reda beberapa jam lalu. Pagi jam 9 lewat saya tiba di gerbang pesantren Salafiyah Syafiiyah. Pohon-pohon asem di pinggir jalan raya besar itu tampak kian tambun setelah dijamah usia hampir seabad. Dari jalan raya besar, dengan becak yang kini bertenaga mesin motor, saya diantar ke lingkungan pesantren. Deretan pepohonan tebu tampak hijau di kiri kanan sepanjang jalan menuju pesantren. Dari kejauhan, lewat corong loadspeaker sudah terdengar lamat-lamat suara para santri yang tengah melafal al-Quran. Ini adalah kali pertama saya berkunjung, setelah hampir sebelas tahun lamanya tidak. Terakhir kali saya berkunjung ke pesantren pada tahun 2001 silam. Kedatangan saya kali ini, setelah mendengar kawat meninggalnya pengasuh pesantren KHR. Ahmad Fawaid Asad. Kabar ini saya terima dari beberapa rekan yang berkirim pesan singkat beberapa jam selepas shalat Jumat dilaksanakan. Saya mengontak seorang rekan dan menanyakan perihal latar m...

Not The Last Supper

Gambar foto ini semula saya lihat ketika baru masuk ke pintu beranda account facebook saya. Gambar ini mengejutkan saya, menarik perhatian saya. Aha! Bukankah foto ini merupakan apropriasi dari lukisan mural karya Leonardo Da Vinci berjudul "The Last Supper" (Perjamuan Terakhir dalam bahasa Itali "L Ultima Cena") yang dibuat pada abad 15 Masehi di sebuah biara di Milan Italia. Foto ini sendiri dibuat rekan-rekan IVAA (Indonesia Visual Art Archive) di Kantor Yayasan Cemeti Patehan, Yogya. Sekedar iseng, baiklah untuk membicarakan foto ini dalam kaitannya sebagai sebuah apropriasi. Melihat foto ini, orang dengan segera teringat kepada hasil mahakarya Da Vinci. Apalagi, judulnya sendiri merupakan kemiripan dari karya aslinya; "Not The Last Supper". Karya foto ini lahir dari kegenitan ide rekan-rekan IVAA (entah siapa yang punya ide ini, mungkin fotografernya atau yang lain). Keisengan karya ini memberikan pemahaman akan spirit yang tengah berkemba...

Yahoo Founder Jerry Yang Resigns

Wednesday 18, 2012, founder of Yahoo Inc. Jerry Yang-Chih Yuan (age 43) leave for his position as top chairman in Yahoo. Still there is no reason dealing with his resignation. Who is Yang? He firstly came to San Jose, California, USA in 1978. He was unable to speak English even a word, though his mother was an English teacher. He completed learning language for three years long, then to enter to the school of Advanced Placement Program. As he grew adult, he went to college at Stanford University took the electronic subject. Over there Yang met with David Filo. His good friendship with Filo brought them into an experimental of the internet world. Till in 1994 Yang and Filo build an application program that could make another sites accessible. The application named Jerry's Guide to the World Wide Web. In the next other day, they changed the application name to Yahoo. Yahoo itself is an acronym of Yet Another Hierarchical Officious Oracle. Then Yahoo went popular ever since. ...

Tolerance but Refusing Food

During my living in Bali, I get into a new interaction with others of Hindus. Here, in Negara, we live side by side with Hindus. It seem the religious sentiment that recently arose among religious follower didn't take impact towards the religious community relationship in Bali. In Negara of Jembrana Regency, majority moslem live in Loloan village, near by Negara City. Some are live in Pulukan, Medewi, Banyubiru, Melaya, and Gilimanuk. It is unique that moslem in Negara (Loloan) using a Melayu language to communicate. Some using both Melayu and Balinese local language. In the center of Negara traditional market, we can see a kind of good interaction between two of religious follower Moslem and Hindus. We can make difference of who Hindus are and who Moslem. Hindus trader usually put a small sanggah (a place to put incense and flowers for worship) gaudy looked in a corner of their shop. Hindus speak Balinese and Moslem speak both Melayu and Balinese. Some moslem work as servant...