Langsung ke konten utama

Postingan

data

How important data is. I have just lost all of my computer data as I have my computer repaired. Some are less important, and some very important to me. I have told to the mechanic in order to save by backing up all my data before reinstall the program. But he didn't undertake my request. It seem he didn't want to work twice. I knew the disappearance of the data as I try to turn on my laptop after have been repaired. I search the document in folder, but what a shock!! I didn't find any data left. The data consist of document of my post graduate thesis, testimony the case of public.antaranews, document of portaltiga.com, some example of proposal for studying abroad, all photos document, articles and many others. It feel impossible to bring the data back, while I wish it back. I thought how risking the technology is. It could help us, and otherwise make us painful. Before that, I also lost my secret password of yahoo email. I didn't catch it till now. Inside the email,...

anyer

Dari ruang vila tempat saya menginap yang jaraknya hanya selemparan batu dari bibir Pantai Anyer, bunyi ombak terdengar setiap saat. Saat saya berdiri di atas pasir lembut Pantai Anyer, mata saya memandang jauh melampaui keramaian orang-orang yang tengah bermain-main di sekitar pantai. Ini kali pertama saya ke Pantai Anyer. Seorang rekan wartawan, mengajak saya bergabung dalam kegiatan tiga hari rekan-rekan wartawan Balaikota DKI. Jarak Jakarta - Anyer ditempuh dalam waktu tiga jam, dengan bus pariwisata. "Anyer" tentu bukan nama asing buat saya. Semula, nama Anyer hanya saya temukan saat saya membaca literatur sejarah masa kolonial. Bicara sejarah masa kolonial di Indonesia, nama tempat ini tak terpisahkan. Di Anyer-lah Gubernur Jenderal Daendels meletakkan batu pertama pembangunan mega proyek Jalan Pos Besar (De Groote PostWeg) atau yang saat ini dikenal dengan Jalan Pantura. Ini merupakan prestasi terbesar sang Gubernur Jenderal selama dia memerint...

Koja

Kemarin siang, saya berada lebih lama di hadapan layar televisi, setelah mengetahui bahwa ternyata bentrok yang terjadi di sekitaran komplek makam Habib Husen bin Muhammad Al Haddad alias Mbah Priok, Tanjung Priok, Koja, Jakarta Utara, adalah bentrok massal yang berdarah-darah. Tiga orang tewas, ratusan luka-luka, berat dan ringan. Ada gambar lelaki dihujam bogem, dipukul pentungan, dilempari batu, ada kepala yang berlumur darah, anak usia remaja yang diseret, tubuh tak berdaya dikirimi tendangan di kepala dan timbukan pecahan beton.. mobil-mobil dibakar,, dan asap hitam menyemburkan kengerian.. Ini kekerasan yang paling heboh yang pernah saya saksikan tahun ini.. Anggota Sat Pol PP yang bergerak atas nama pihak berkepentingan didukung legalitas hukum, bentrok dengan penduduk yang percaya bahwa situs makam Mbah Priok tidak boleh digusur, apalagi dicaplok hak kepemilikannya atas lahan tersebut. Makam bukan sekedar tempat peristirahatan orang-orang yang sudah tiada. Makam adalah juga s...

Seekor Tikus Kecil Musuhku

Di kamarku yang sempit, aku punya musuh: seekor tikus mungil. Saban waktu, tikus kecil itu masuk dengan menyelinap lewat lubang jendela, atau dari bawah sofa, kemudian bersembunyi untuk beberapa lama di balik lemari baju. Terkadang, tanpa malu-malu, tikus kecil itu lewat begitu saja ketika aku tengah asyik menghadap televisi, atau saat aku tengah menenggelamkan kepala di hadapan sebuah buku. Sepertinya ia paham dengan bahasa tubuhku. Ketika aku tolehkan pandangan ke arahnya, ia akan berpura-pura berhenti atau mempercepat lari. Aku tidak tahu apa yang tikus kecil itu lakukan di kamarku. Dan aku tidak tahu apakah dia sendirian atau lebih dari satu. Aku tak pernah berhasil mengidentifikasi bentuk tubuhnya, atau ciri-ciri khusus yang dimiliki tikus kecil itu untuk dapat mengetahui apakah dia sendiri atau lebih dari satu. Tikus kecil itu telah membuatku jengkel dari sejak pertama aku melihatnya. Aku seperti mendapat ejekan dari setiap tingkahnya. Lebih-lebih karena dia andil dalam membuat k...

Gmail yang Bikin Juteg

Seorang kawan hendak berkirim surat info penting dan meminta alamat email. Lalu saya berikan alamat gmail (google mail) saya. Hari ini, Senin (22 Feb 2010) pagi, sebenarnya mulai tadi malam, saya mengecek email dan sudah ada empat email yang masuk dari kawan saya. “confidential” isi email ini tentu ingin segera saya ketahui. Isinya sudah pasti menarik. Tetapi saya dibikin kesal dan jengkel lantaran inbox gmail saya tidak dapat dibuka. Hmm.. mula-mula saya menduga pasti ada gangguan jaringan untuk gmail sendiri. Sebab facebook dan yahoomail milik saya nyatanya tetap dapat berfungsi. Tetapi setelah semalaman, keesokan pagi, tetap saja inbox di gmail tidak mau dibuka. Warningnya berbunyi “Error -- some gmail features have failed to load due to an internet connectivity problem. If this problem persist, try reloading the page, using the older version, or using basic HTML mode. Learn more.” "due to internet connectivity?? So far, gak ada masalah dengan jaringan internet di tempat say...

Gus Dur, Secarik Kenangan Dari Saya

Rabu 30 Desember 2009, senja hari. Saya baru saja membuka satu situs website ketika tiba-tiba terpampang di hadapan saya, berita headline meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). ”Gus Dur meninggal ???!!” saya berseru dalam hati. Ya, Gus Dur meninggal beberapa menit lalu. Saya berkirim SMS memberitahukan kepada beberapa kawan yang mungkin belum menyimak berita ini. Saya berusaha mengurai informasi lebih jauh terkait meninggalnya Gus Dur, dari berita web tersebut. Tanpa saya sadari, dada saya terguncang, dan mata saya berkaca-kaca. Gus Dur meninggal. Sesuatu yang mungkin terjadi di tengah kondisi kesehatan beliau yang terus menurun dalam beberapa hari terakhir. Berbilang hari sebelumnya, Gus Dur dikabarkan sakit dan menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Jombang Jawa Timur, saat tengah melakukan kegiatan ziarah ke beberapa pesantren di kota kelahirannya. Dari Jombang, Gus Dur dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Selang tak berapa lama, kesehatan Gus Dur dika...

Sape Ampenan sebuah “Film Penerangan”

Saya mengakhiri jalan-jalan akhir pekan di Lombok dengan menonton film semi dokumenter ”Sape Ampenan Satu Cinta” di Kantor Kesbang Linmas Mataram, Minggu (20/12/09) malam. Sebelumnya, niat menonton film itu tidak direncanakan, kecuali setelah masuk pesan singkat ke ponsel rekan saya, dan rekan saya membacakan pesan itu yang berisi informasi permintaan hadir dalam acara nonton bareng tersebut. Film berdurasi kurang dari 1 jam itu bercerita tentang seorang pengelana, yang melakukan "le grande voyage" dari ujung barat Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ampenan, hingga di ujung timur, di Sape, Kabupaten Bima. Plot di dalam cerita sengaja tidak dibuat saling berkait, namun tetap diusahakan untuk saling mengikat sesuai tema besarnya sebagai ”Film Perekat Kesatuan”. Masing-masing membentuk narasi sendiri-sendiri; siswa sekolah bernama Sasak, dan Putri Samawa, Pengelana, seorang mahasiswa cantik yang sedang melakukan perjalanan penelitian, pedagang lintas pulau, seorang ibu yan...