Langsung ke konten utama

Postingan

rendra

Saya sudah lama mengenal Rendra, sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, lewat buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Dan Ayah saya memberitahu julukan penyair itu "Si Burung Merak" ketika pada suatu malam di acara yang sudah tidak saya ingat dan disiarkan TVRI, Rendra tampil membaca sajak. Saya lebih mengenal siapa Rendra lagi (meski saya tidak pernah melihat langsung sosoknya), ketika kira-kira di tahun 2000, saya menyaksikan gelaran pentas teater oleh sekelompok sanggar di Auditorium IAIN Yogyakarta, dengan menampilkan "Nyanyian Angsa". Terakhir saya menyaksikan Rendra, dan menulis berita tentangnya, saat dia membacakan sajak di acara Deklarasi duet Megawati-Prabowo di Bantar Gebang beberapa bulan lalu. Berikut ini naskah Nyanyian Angsa Rendra: NYANYIAN ANGSA Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya: “Sudah dua minggu kamu berbaring. Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilkan uang. Malahan kapadaku kamu berhutang. Ini beaya melulu. Aku tak kuat lagi. ...

geritan

Perjalanan dari Solo ke Purwodadi Grobogan, kemudian dari Purwodadi dengan jurusan Blora, dengan jalur angkutan bus butut itu sangat melelahkan. Saya tiba di sebuah dusun terpencil, jauh ke utara dari jalan raya Grobogan-Blora. Dusun Geritan, Kecamatan Ngaringan. Suatu wilayah yang saya kenal dengan baik. Saya punya rekan akrab yang sudah lama saya kenal. Rekan saya itu sudah meninggal empat tahun silam. Tinggallah kini keluarganya yang mengenal saya. Kali pertama saya ke dusun itu pada tahun 1999 petang menjelang puasa. Kemudian berturut-turut di tahun-tahun selanjutnya. Kemudian di hari saat kawan saya meninggal di tahun 2005 silam. Dan kali ini merupakan kali kedua kunjungan saya setelah rekan saya itu tiada. Saya mengenal beberapa orang yang tinggal di dusun itu, sebagaimana saya juga mengenal sedikit topografi wilayah itu. Di sebelah barat dusun itu mengalir sebuah kali yang airnya berasal dari sumber mataair jauh di utara dusun. Dusun itu juga dibelah oleh jalan di bagian timurn...

pada sebuah pagi

Pagi ini, seperti pagi yang kemarin, saya terbangun, kemudian termangu di hadapan layar monitor. Di luar ada suara kicau dari beberapa ekor burung peliharaan tetangga. Ramai dan meriah. Saya serasa berada di tengah-tengah kebun dengan pohon-pohon. Tetapi saya menyadari, saya tidak sedang berada di kebun dengan pohon-pohon. Saya berada di belantara dunia maya, melakukan interaksi ajaib dengan manusia dari semua bangsa. Dunia modern ini, kata orang, mencabut ruang dari waktu. Kita bisa berada di mana-mana tanpa harus ke mana- mana. Sebuah layar monitor dilengkapi tut dan alat penangkap sinyal menjadi kendaraan perjalanan ke dunia tanpa batas itu. Teknologi ini mentransformasi cara hidup dan cara laku sehari-hari kita. Keadaan ini kita terima begitu saja. Namun saya penasaran dan ingin sekali memahami dan merasakan apa peristiwa yang dahulu berlaku sebelum alat-alat teknologi ini menjadi bagian dari (embedded) sehari-hari kita.

manohara

Manohara Odelia Pinot tengah menjadi buah bibir. Kepulangannya ke Indonesia melalui sebuah proses dramatis melibatkan campur tangan agen rahasia AS, FBI, dan kepolisian Singapura. Di atas pesawat Garuda yang membawanya terbang dari Bandara Changi Singapura menuju tanah air, raut muka Manohara tidak bisa menyimpan keceriaan hatinya tiada tara, dengan kegembiraan seseorang yang baru saja lolos dari “sarang penyamun”. Setiba di tanah air, gadis mantan model itu menjadi pusat sorotan media yang ingin mengeruk ‘kebenaran’ tentang kisah sebenarnya mengenai derita yang dia alami selama menjadi pendamping putra keluarga kerajaan Negara Bagian Kelantan, Malaysia, Tengku Fakhry. Dikabarkan, gadis blasteran dari ibu, Daisy Fajarina, kebangsaan Bugis dan ayah Reiner Pinot Noack dari Prancis itu, mendapat perlakuan tidak semestinya dari sang suami. Ia mengaku pernah disiksa, dengan distrika, disulut sigar (rokok) di bagian dahi, dan mengaku masih menyimpan sejumlah bekas sisa sayatan di beberapa ba...

catatan kaki di kota yang akan saya tinggalkan

JAKARTA akhir Mei. Mata saya sulit terpejam, meski malam telah jauh. Jarum jam tepat 02 dini hari. Sebuah film terakhir yang saya tonton di layar tv berlangganan (HBO), Letters from Iwo Jima (Io Jima Kara no Tegami ) besutan Clint Eastwood, mengakhiri Sabtu malam yang sepi di tempat ini. Di mess Tebet Timur, tinggal saya dan Pak Edi Wirya. Beberapa jam lalu Bung Santoros sudah berada di kereta yang membawanya ke Solo. Roma Andero, seorang OB yang belakangan dididik menjadi calon wartawan muda bidang olahraga, sejak pagi sudah tidak menampakkan wajah. Sejak malam kemarin, tak ada lagi rekan-rekan wartawan yang datang kemari. Saya sendiri sudah memesan tiket untuk keberangkatan ke Yogya Minggu malam nanti. Mess ini tiba-tiba berubah menjadi seolah-olah seperti kuburan tua yang jarang dikunjungi. Di sini hanya ada pembicaraan saya dengan Pak Edi, pensiunan pegawai Antara yang direkrut kembali belum lama ini untuk bergabung di anak perusahaan di mana kami bertugas. Saya menghisap berbata...

10 Hari di Yogya

"Sepuluh hari terasa begitu singkat, " kata saya kepada seorang kawan yang menemani ke Stasiun Tugu Selasa (12/5) sore kemarin, sewaktu memesan tiket kereta untuk keberangkatan ke Jakarta. Saya tiba di Yogya pada Minggu pagi, 3 Mei lalu, untuk suatu keperluan mengurus tugas akhir kuliah yang belum finish. Waktu yang saya minta hanya 10 hari. Saya datang dengan membawa berkas print out tugas akhir. Pada Senin pagi, 14 Mei, saya ke kampus dan bertemu kawan lama satu kelas, Hagung Hendrawan. Saya juga bertemu asisten pembimbing satu saya, mbak Devi Ardiani. Sebelumnya, kami sudah saling kontak dan membuat appointment untuk ketemu di kampus. Pembicaraan kami berkisar masalah yang ringan-ringan. Saya juga bertemu Pak Tri, eks dosen saya sewaktu masih mengambil teori dulu. Saya juga bertemu mbak Hengki, sekertaris jurusan. Hari itu, saya berniat bertemu pembimbing satu, Pak Sunardi dan pembimbin dua, mbak Katrin. Dua jam kemudian, saya bertemu Pak Nardi di ruang kerjanya. Pembica...

Saat Angin Meniup Daun Pohon Palma

Angin dingin dari laut berhembus menggoyangkan daun pohon palma di halaman Rumah Sakit Koja. Keadaan begitu hening. Lantai dan setengah dinding dari marmer tampak pucat oleh benderang lampu di langit-langit koridor. Dari luar, saya hanya mendengar bunyi dentang cepat monitor perekam pergerakan detak nafas dan jantung di ruang ICU. Di dalam hati, saya berharap dan memohon, pagi ini Tuhan harus memberi kepastian... Jam 4 dinihari tadi, suster membangunkan saya dan kawan Robi. "Keadaan sudah sangat kritis," kata Suster. Saya dan Kawan Robi juga mbak Ari, bergegas menuju ruang ICU saat pandangan mata masih melihat kabur sekitar. Di ruangan yang tidak memperkenankan orang masuk dengan alas kaki itu, saya mengambil baju khusus pengunjung warna biru dan mengenakannya. Lantai terasa begitu dingin terinjak oleh kaki yang telanjang. Saya melangkah mengikuti Kawan Robi menuju bilik tempat isteri Kawan Robi dibaringkan. Selvia, isteri Kawan Robi, tergeletak tidak berdaya dengan beberapa ...