Langsung ke konten utama

Postingan

catatan kaki di kota yang akan saya tinggalkan

JAKARTA akhir Mei. Mata saya sulit terpejam, meski malam telah jauh. Jarum jam tepat 02 dini hari. Sebuah film terakhir yang saya tonton di layar tv berlangganan (HBO), Letters from Iwo Jima (Io Jima Kara no Tegami ) besutan Clint Eastwood, mengakhiri Sabtu malam yang sepi di tempat ini. Di mess Tebet Timur, tinggal saya dan Pak Edi Wirya. Beberapa jam lalu Bung Santoros sudah berada di kereta yang membawanya ke Solo. Roma Andero, seorang OB yang belakangan dididik menjadi calon wartawan muda bidang olahraga, sejak pagi sudah tidak menampakkan wajah. Sejak malam kemarin, tak ada lagi rekan-rekan wartawan yang datang kemari. Saya sendiri sudah memesan tiket untuk keberangkatan ke Yogya Minggu malam nanti. Mess ini tiba-tiba berubah menjadi seolah-olah seperti kuburan tua yang jarang dikunjungi. Di sini hanya ada pembicaraan saya dengan Pak Edi, pensiunan pegawai Antara yang direkrut kembali belum lama ini untuk bergabung di anak perusahaan di mana kami bertugas. Saya menghisap berbata...

10 Hari di Yogya

"Sepuluh hari terasa begitu singkat, " kata saya kepada seorang kawan yang menemani ke Stasiun Tugu Selasa (12/5) sore kemarin, sewaktu memesan tiket kereta untuk keberangkatan ke Jakarta. Saya tiba di Yogya pada Minggu pagi, 3 Mei lalu, untuk suatu keperluan mengurus tugas akhir kuliah yang belum finish. Waktu yang saya minta hanya 10 hari. Saya datang dengan membawa berkas print out tugas akhir. Pada Senin pagi, 14 Mei, saya ke kampus dan bertemu kawan lama satu kelas, Hagung Hendrawan. Saya juga bertemu asisten pembimbing satu saya, mbak Devi Ardiani. Sebelumnya, kami sudah saling kontak dan membuat appointment untuk ketemu di kampus. Pembicaraan kami berkisar masalah yang ringan-ringan. Saya juga bertemu Pak Tri, eks dosen saya sewaktu masih mengambil teori dulu. Saya juga bertemu mbak Hengki, sekertaris jurusan. Hari itu, saya berniat bertemu pembimbing satu, Pak Sunardi dan pembimbin dua, mbak Katrin. Dua jam kemudian, saya bertemu Pak Nardi di ruang kerjanya. Pembica...

Saat Angin Meniup Daun Pohon Palma

Angin dingin dari laut berhembus menggoyangkan daun pohon palma di halaman Rumah Sakit Koja. Keadaan begitu hening. Lantai dan setengah dinding dari marmer tampak pucat oleh benderang lampu di langit-langit koridor. Dari luar, saya hanya mendengar bunyi dentang cepat monitor perekam pergerakan detak nafas dan jantung di ruang ICU. Di dalam hati, saya berharap dan memohon, pagi ini Tuhan harus memberi kepastian... Jam 4 dinihari tadi, suster membangunkan saya dan kawan Robi. "Keadaan sudah sangat kritis," kata Suster. Saya dan Kawan Robi juga mbak Ari, bergegas menuju ruang ICU saat pandangan mata masih melihat kabur sekitar. Di ruangan yang tidak memperkenankan orang masuk dengan alas kaki itu, saya mengambil baju khusus pengunjung warna biru dan mengenakannya. Lantai terasa begitu dingin terinjak oleh kaki yang telanjang. Saya melangkah mengikuti Kawan Robi menuju bilik tempat isteri Kawan Robi dibaringkan. Selvia, isteri Kawan Robi, tergeletak tidak berdaya dengan beberapa ...

tcf

Semalam saya menonton film Turtles Can Fly (TCF) di sebuah saluran televisi. Film ini dibuat tahun 2004 oleh sutradara berkebangsaan Kurdi, Bahman Ghobadi, setahun setelah kekuasaan Saddam Husein di Irak digulingkan. Saluran TV itu tentu tahu alasan mengapa film TCF yang diangkat sebagai layar emas akhir pekan. Tema perang yang melatari kisah TCF relevan dengan fakta terkini, sengketa di belahan negara Timur Tengah antara Israel dan pejuang Hamas Palestina, yang telah menewaskan warga sipil terutama anak-anak dan kaum perempuan. TCF sendiri berkisah tentang dampak dari kecamuk perang. Ghobadi berhasil menghadirkan fakta tentang korban kekerasan konflik politik kawasan. Ghobadi mengeksplorasi sisi paling banal dari fenomena kekerasan politik, manakala ia menampilkan kisah anak-anak yang dipaksa masuk ke dalam pusaran perang itu sendiri, dan meninggalkan keceriaan masa kanak-kanak mereka. Sattelite (diperankan Soran Ebrahim), anak berusia 13 tahun, yang berperan menjadi ketua kelompok s...

kepada kawan saya yang jauh

Kawan saya yang kini jarak tinggalnya jauh di seberang pulau berkirim pesan singkat selamat natal yang agak janggal kepada saya: "Selamat Natal 1429 H Kawan," tulisnya. Ketika terbangun, saya teringat kawan saya ini, yang kini jarak tinggalnya bermil jauhnya dari saya. Pesawat Sriwijaya Air penerbangan Surabaya - Kalimantan membawanya meninggalkan tanah kelahiran. "Perjuangan tidak harus di sini (Jawa), kawan. Kita perlu melebarkan sayap," kata kawan saya itu suatu ketika, saat saya memintanya untuk sebaiknya melanjutkan karir menjadi wartawan di Jakarta. Saat ini dia menjadi tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat (Kaltim). Sebelumnya, dia menamatkan studi program magister di IAIN Surabaya. Setelah itu melanjutkan ke program magister studi ICAS di Jakarta, masa pendidikan yang hanya dilakoninya satu smester, sebelum kemudian memutuskan untuk keluar dan memilih menjadi penulis lepas, lalu menjalani profesi wartawan d...

Film

"Catatan ini adalah surat elektronik (email) balasan saya kepada kawan saya, RS, yang saya tulis tanggal 16 Desember. Kebetulan kami tengah bicarakan seputar film." Untuk RS Terus terang saya belum sempat menonton film-film terbaru produksi sineas dalam negeri. Termasuk film yang R sebut, arahan sutradara Hanung Bramantyo. Hampir tidak ada waktu. Saya menduga, di rental VCD belum tersedia. Film Hanung soal geng motor yang mengisahkan hal yang berbeda dari pemandangan kenyataan anak-anak geng motor di Bandung, paling tidak memberikan satu gambaran buat saya tentang sosok sutradaranya sendiri. Setelah sukses lewat film Ayat-Ayat Cinta dan mendapat pujian dari orang nomor satu di negeri ini (SBY), tampaknya hampir semua film Hanung akan mengarah kepada jenis film yang menceritakan kemungkinan-kemungkinan positif di wilayah yang sebetulnya berbau negatif. Macam film yang R sebut itu: Tarix Jabrix (terus terang saya belum tahu film ini). Yang namanya komunitas Geng Motor, setahu ...

ke cawang

Saya akan melakukan perjalanan ke Cawang dengan kereta, pada sebuah pagi, ketika di timur sinar matahari baru saja naik lima jengkal. Sebelum berangkat, saya menelpon seorang kawan, mengabarkan kedatangan saya. Di saku saya hanya ada HP yang tidak bisa difungsikan. Saya menelepon dengan telepon ofis, tak lebih dari 2 menit. “Saya akan ke Jakarta, Kawan. Sekitar jam 8 nanti saya sudah akan tiba di Cawang.” Kata saya di telinga kawan saya, lewat telepon. Hari itu hari Minggu, 2 November. Di stasiun Bogor , saya seperti orang bingung. Setelah melewati loket dan membeli karcis ekonomi 2500 tujuan Jakarta, saya beranjak ke tempat di sisi rel, di mana para penumpang menunggu kereta yang akan tiba. Mereka yang jeli membaca sikap seseorang, tentulah tidak akan sulit mengenali saya sebagai orang baru, meski saya berusaha bertingkah sebagai orang yang seolah-olah sudah lima tahun tinggal di kota itu. Saya memaksa diri untuk bertanya kepada seseorang yang kelihatan telah lanjut usia....