Langsung ke konten utama

Postingan

Saat Angin Meniup Daun Pohon Palma

Angin dingin dari laut berhembus menggoyangkan daun pohon palma di halaman Rumah Sakit Koja. Keadaan begitu hening. Lantai dan setengah dinding dari marmer tampak pucat oleh benderang lampu di langit-langit koridor. Dari luar, saya hanya mendengar bunyi dentang cepat monitor perekam pergerakan detak nafas dan jantung di ruang ICU. Di dalam hati, saya berharap dan memohon, pagi ini Tuhan harus memberi kepastian... Jam 4 dinihari tadi, suster membangunkan saya dan kawan Robi. "Keadaan sudah sangat kritis," kata Suster. Saya dan Kawan Robi juga mbak Ari, bergegas menuju ruang ICU saat pandangan mata masih melihat kabur sekitar. Di ruangan yang tidak memperkenankan orang masuk dengan alas kaki itu, saya mengambil baju khusus pengunjung warna biru dan mengenakannya. Lantai terasa begitu dingin terinjak oleh kaki yang telanjang. Saya melangkah mengikuti Kawan Robi menuju bilik tempat isteri Kawan Robi dibaringkan. Selvia, isteri Kawan Robi, tergeletak tidak berdaya dengan beberapa ...

tcf

Semalam saya menonton film Turtles Can Fly (TCF) di sebuah saluran televisi. Film ini dibuat tahun 2004 oleh sutradara berkebangsaan Kurdi, Bahman Ghobadi, setahun setelah kekuasaan Saddam Husein di Irak digulingkan. Saluran TV itu tentu tahu alasan mengapa film TCF yang diangkat sebagai layar emas akhir pekan. Tema perang yang melatari kisah TCF relevan dengan fakta terkini, sengketa di belahan negara Timur Tengah antara Israel dan pejuang Hamas Palestina, yang telah menewaskan warga sipil terutama anak-anak dan kaum perempuan. TCF sendiri berkisah tentang dampak dari kecamuk perang. Ghobadi berhasil menghadirkan fakta tentang korban kekerasan konflik politik kawasan. Ghobadi mengeksplorasi sisi paling banal dari fenomena kekerasan politik, manakala ia menampilkan kisah anak-anak yang dipaksa masuk ke dalam pusaran perang itu sendiri, dan meninggalkan keceriaan masa kanak-kanak mereka. Sattelite (diperankan Soran Ebrahim), anak berusia 13 tahun, yang berperan menjadi ketua kelompok s...

kepada kawan saya yang jauh

Kawan saya yang kini jarak tinggalnya jauh di seberang pulau berkirim pesan singkat selamat natal yang agak janggal kepada saya: "Selamat Natal 1429 H Kawan," tulisnya. Ketika terbangun, saya teringat kawan saya ini, yang kini jarak tinggalnya bermil jauhnya dari saya. Pesawat Sriwijaya Air penerbangan Surabaya - Kalimantan membawanya meninggalkan tanah kelahiran. "Perjuangan tidak harus di sini (Jawa), kawan. Kita perlu melebarkan sayap," kata kawan saya itu suatu ketika, saat saya memintanya untuk sebaiknya melanjutkan karir menjadi wartawan di Jakarta. Saat ini dia menjadi tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat (Kaltim). Sebelumnya, dia menamatkan studi program magister di IAIN Surabaya. Setelah itu melanjutkan ke program magister studi ICAS di Jakarta, masa pendidikan yang hanya dilakoninya satu smester, sebelum kemudian memutuskan untuk keluar dan memilih menjadi penulis lepas, lalu menjalani profesi wartawan d...

Film

"Catatan ini adalah surat elektronik (email) balasan saya kepada kawan saya, RS, yang saya tulis tanggal 16 Desember. Kebetulan kami tengah bicarakan seputar film." Untuk RS Terus terang saya belum sempat menonton film-film terbaru produksi sineas dalam negeri. Termasuk film yang R sebut, arahan sutradara Hanung Bramantyo. Hampir tidak ada waktu. Saya menduga, di rental VCD belum tersedia. Film Hanung soal geng motor yang mengisahkan hal yang berbeda dari pemandangan kenyataan anak-anak geng motor di Bandung, paling tidak memberikan satu gambaran buat saya tentang sosok sutradaranya sendiri. Setelah sukses lewat film Ayat-Ayat Cinta dan mendapat pujian dari orang nomor satu di negeri ini (SBY), tampaknya hampir semua film Hanung akan mengarah kepada jenis film yang menceritakan kemungkinan-kemungkinan positif di wilayah yang sebetulnya berbau negatif. Macam film yang R sebut itu: Tarix Jabrix (terus terang saya belum tahu film ini). Yang namanya komunitas Geng Motor, setahu ...

ke cawang

Saya akan melakukan perjalanan ke Cawang dengan kereta, pada sebuah pagi, ketika di timur sinar matahari baru saja naik lima jengkal. Sebelum berangkat, saya menelpon seorang kawan, mengabarkan kedatangan saya. Di saku saya hanya ada HP yang tidak bisa difungsikan. Saya menelepon dengan telepon ofis, tak lebih dari 2 menit. “Saya akan ke Jakarta, Kawan. Sekitar jam 8 nanti saya sudah akan tiba di Cawang.” Kata saya di telinga kawan saya, lewat telepon. Hari itu hari Minggu, 2 November. Di stasiun Bogor , saya seperti orang bingung. Setelah melewati loket dan membeli karcis ekonomi 2500 tujuan Jakarta, saya beranjak ke tempat di sisi rel, di mana para penumpang menunggu kereta yang akan tiba. Mereka yang jeli membaca sikap seseorang, tentulah tidak akan sulit mengenali saya sebagai orang baru, meski saya berusaha bertingkah sebagai orang yang seolah-olah sudah lima tahun tinggal di kota itu. Saya memaksa diri untuk bertanya kepada seseorang yang kelihatan telah lanjut usia....

Ini adalah hari Obama

[foto paling atas: Pidato kemenangan Barack Obama di hadapan pendukungnya di Grant Park Chicago/ foto-foto lain adalah foto saat kampanye] Di depan layar televisi yang menyiarkan live proses akhir pemilu di Amerika, saya tak hendak beranjak dari tempat duduk barang sekejap. Padahal saya ingin sekali ke belakang membuang pipis. Obama Menang. Jarak perol ehan suara yang diraih senator dari Illinois (baca: Ilinoa) yang mewakili kubu Demokrat itu sangat jauh dibanding pesaingnya, John McCain dari Kubu Republik. Para pendukung Obama berkumpul m eluber di Grant Park, pusat kota Chicago. Dengan bendera kecil di tangan dan rasa senang yang meluap, mereka meneriakkan kemenangan “Yes We Can, Yes We Can.” Sementara nun di negara bagian Arizona, pendukung John McCain, tertunduk lesu. Barangkali di antara mereka ada yang sulit menerima kenyataan. Hari ini, Selasa 4 November yang bersejar ah, Barack Obama, senator berusia 47 tahun keturunan blasteran Afro-Amerika, berkulit hitam, emp...

Halimun 8

“Selamat pagi..ini kantor Kabarpemilu.com, jalan Halimun 8?” Di ruang tamu, seseorang mempersilahkan saya dan kawan Robi masuk. Ruangan itu terasa lembab, sejuk. Saya menaksir bangunan rumah ini didirikan dari tahun yang telah lewat jauh. Belakangan saya ketahui berdiri di tahun sekitar 1970-an. Ini kantor redaksi. Meja dengan komputer dan telepon. Dan orang-orang yang suntuk di depan layar monitor. Satu dari redaktur itu yang kemudian saya kenal dipanggil dengan nama Bung Cae, mengenal baik kawan saya. Saya bersyukur dan menganggap ini sebagai permulaan yang bagus. Bung Cae adalah wartawan yang pernah satu lokasi dengan kawan Robi, saat kawan Robi bertugas di Bogor, sebelum ia dipindah ke Jakarta. Selepas perbincangan basa basi yang kurang dari satu jam itu, saya diminta membuat berita: ramalan cuaca. Hmmm.. sejak kapan saya belajar jadi juru ramal. Saya diminta mengontak dinas BMG. “Tolong dong buatin berita tentang cuaca hari ini dan tiga hari ke depan. Sekalian kontak pegawai BMG...