Langsung ke konten utama

Postingan

Kegembiraan Politik

Saya contohkan bagaimana hasil tanding Brasil vs Jerman yang berakhir dengan kemenangan Jerman 7-1 pada malam sebelum hari pencoblosan. Di halaman FB berita kemenangan Jerman diplintir menjadi: "Brasil Bantai Jerman" versi Obor Rakyat, tabloid yang selalu mendengungkan berita bohong untuk kandidat nomor 2. (catatan ini masih berlanjut)

Inilah Negeri Para Bandit

Inilah negeri para Bandit Birokrasi sengaja dibikin rumit Sogok dan suap membelit-belit Inilah negeri para Bandit Para pejabatnya berperut buncit Sementara rakyatnya dibiarkan lapar dan sakit-sakit Inilah negeri para Bandit Mencari keadilan sangat sulit Kebenaran terhimpit kepentingan rakus kaum berduit Inilah negeri para Bandit Para orang tua menjerit oleh biaya sekolah anak-anak mereka yang melangit Inilah negeri para Bandit Pemerintah gencar berceramah, menganjurkan agar rakyat hidup irit Sementara mereka gemar plesiran ke luar negeri Inilah negeri para Bandit Aparatus negaranya makin tulalit Inilah negeri para Bandit Tempat orang-orang vokal dan kritis dituduh sebagai pengikut Partai Palu Arit II Inilah negeri para Bandit Tempat orang-orang kaya menghambur uang dan kartu kredit Inilah negeri para Bandit Kaum kayanya sangat pelit Para dermawan makin sedikit Para wakil rakyat bermurah hati hanya di musim kampanye Inilah negeri para Bandit Kaum aga...

Asembagus

Di bulan Mei, angin bertiup lebih kencang menggeser letak dedaunan kering. Sesekali debu beterbangan seperti menampar-nampar wajah hinggap ke bola mataku. Keadaan ini mengingatkan aku pada kenangan berpuluh tahun lalu: 1993, tahun pertamaku di tempat ini. Di musim angin dan debu itu, penyakit mata dan kudis tengah mewabah, menjangkit bergiliran satu demi satu para santri. Aku masih ingat bagaimana cuaca kering itu membuat pecah-pecah telapak kaki, dan terasa sangat perihnya saat kucelupkan ke dalam air. Senja 9 Mei aku tiba di Pesantren Salafiyah Asembagus untuk memenuhi undangan perayaan 1 abad usia pesantren. Hari beranjak gelap. Selepas shalat maghrib dan berziarah ke makam para pendiri pesantren, aku berjalan sendiri menelusur jalanan mencari warung nasi untuk memenuhi hajat perutku yang keroncongan. Dari masjid itu, terdengar seorang ustad mendaras kitab kuning. Aku teringat guruku almarhum Ustadz Dhofir Jazuli, seorang guru tua dengan suara khas yang diselingi batuk-...

Persahabatan Ini

Untuk Sobatku Ibnul A'robi yang telah mendahului kami. Dering handphone berbunyi beberapa kali. Saya tak mengindahkan. Pada bunyi berikutnya saya baru mengangkatnya dan mendengar suara Mbak Ainul jauh dari seberang: "Sam, Innalillahi wa innailaihi rojiun, Aak sudah pergi Sam, beberapa menit yang lalu.... Tolong kabari rekan-rekan...." Mendengar kabar mendadak itu, saya menundukkan kepala dan terisak beberapa saat. Lebih dari tiga bulan lalu, saya mendapat kabar sobat Arobi mendapat perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sekeluar dari RS, kami sempat bertukar kabar via BBM. Ia menjelaskan jenis penyakit yang diderita dan sudah dalam tahap penyembuhan. Suatu ketika, rekanku Ahmad Nurhasyim (jurnalis Koran Tempo) mengontak saya dan membicarakan tentang beberapa isu yang konon akan diangkat sebagai berita investigatif untuk media tempatnya bekerja. Dalam pembicaraan itu Hasyim menyinggung soal kesehatan sobat Arobi. Kira-kira tiga minggu lalu, Mas Aris Fau...

Lebaran

Tahun ini saya merayakan lebaran di kampung. Agak sedikit istimewa karena saya pulang kampung bersama isteri dan putriku yang baru saja mulai bisa jalan. Seru takbiran dari masjid dan surau, keramaian di jalan-jalan, berziarah ke makam moyang adalah sekelumit peristiwa lebaran yang terus berulang, dan senantiasa membawa selintas kenangan kepada masa kecil. Tetapi kesyahduan suasana lebaran di masa kecilku tak kujumpai hari ini. Tak ada nyala obor yang dijunjung tangan anak-anak yang menghias sudut - sudut jalan. Tak ada. Sementara itu, gema takbir dari masjid dan surau tenggelam oleh kebisingan knalpot sepeda motor dan keriuhan musik pop dangdut yang diputar para remaja di pinggir jalan. Suara petasan juga sudah kian memekakkan telinga. Saat saling bersalaman usai shalat Ied, saat itulah saya bersua dengan banyak wajah; wajah yang saya kenali yang sangat kukenal dan yang tidak saya kenal. Sebagian mereka tampak sudah sangat tua. Adapula yang tampak seperti kelebihan ber...

PRJ Tanpa Kerak Telor

Dalam bulan Juni 2010 silam, saya berkesempatan jalan jalan di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair. Dengan bus transjakarta saya meluncur dari Harmoni ke Senen, trus ke jurusan Ancol dan turun di Jembatan Merah. Dari Jembatan Merah naik oplet ke Kemayoran tempat PRJ dihelat saban tahun. Hari masih terlalu siang saat saya tiba di arena PRJ, sekitar jam 2 siang. Loket penjual tiket belum lagi buka. Siang yang terik dan udara Jakarta yang panas membuat tenggorokan saya berteriak minta minum. Beruntung ada pedagang kelapa muda di sisi jalan di luar arena PRJ, dan kesana lah saya mampir, sembari mencari tau jam berapa loket PRJ buka. Maklum ini pertamakali saya ke PRJ. Tak sabar tenggorokan kering, satu butir kelapamuda ludes. Terasa pulih sudah tenggorokan ini. Pada sekitar jam 4 lewat barulah loket penjualan tiket PRJ buka. Pengunjungnya luar biasa ramai. Tempat parkir kendaraan yang luas hampir semua terisi. Dan saya termasuk salah satu pengunjung yang paling aw...

Masjid Masjid di Mana mana

Dimana-mana umat muslim sangat gemar membangun masjid. Ukuran bangunannya terkadang tak kepalang tanggung. Kebanyakan maunya lebih dari satu lantai. Dana yang diperlukan untuk memenuhi harapan membangun itu sudah pasti jauh melebihi kemampuan sumber dana masyarakatnya sendiri. Maka tak jarang saya menjumpai bangunan masjid yang setengah jadi. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merampungkan seratus persen. Itupun bergantung pada ketekunan pengurus masjid mencari dana ditambah kejujuran mengelola. Jika sebaliknya, maka bangunan masjid yang setengah jadi itulah hasilnya. Tak jarang dalam sebuah himpunan jamaah yang tengah bersama-sama menyelesaikan pembangunan masjid, timbul friksi, selisih pendapat dan pendirian, yang pada akhirnya memunculkan gosip dan fitnah antar sesama. Ini kejadian yang lazim dimana saja. (Beda kali ya, jika yang bangun masjid itu satu orang kaya raya yang tidak butuh kepanitiaan dan sanggup merogoh kocek pribadi untuk bikin masjid ..) Masjid tetapla...