Langsung ke konten utama

Kesendirian

Dari jendela lantai 5 hotel swiss-belinn, sepetak sawah seluas kira-kira dua hektar itu, tampak bagai permadani antik di tengah kepungan bermacam bangunan-bangunan beton di sekelilingnya. Di tengah kota Surabaya.

Ada tanaman padi yang masih tegak di sana. Ditanam tangan-tangan petani, jika masih mungkin layak disebut petani, yang masih menggantung harapan penghidupannya dari sawah itu. Selebihnya, di luar musim tanam dan waktu panen, petani ini entah bekerja sebagai apa: tukang tambal ban kah? Pulisi cepek kah? Buruh pabrik kah? Tukang parkir liar kah? Pegawai negeri kah?

Persawahan di sisi timur Swiss Bellinn Surabaya/
12-12-2018/foto by samsulbahri


Di tengah rimba kota, sawah jadi barang antik. Bisa jadi daya tarik bagi wisatawan yang kebetulan menyaksikan pemandangan ini. Bisa jadi daya tarik bagi si pemodal rakus yang melirik dan menaksir berapa milyar dibutuhkan uang untuk merebut dan mengalihfungsikan sawah itu jadi ladang bisnis yang tidak lagi membuahkan bulir padi melainkan membuahkan uang. Semata uang...!

Si pemilik sawah ini pun mungkin sedang melambungkan mimpi, kapan akan tiba pembeli yang melontarkan tawaran harga menggiurkan yang hasilnya dapat dipakai "naik haji" sekeluarga, membeli rumah dan mobil, lalu sisanya didepositokan.

Entah. Aku sendiri tidak tau siapa pemilik sawah di tengah kota ini. Mungkin saja sawah ini sudah beralih tangan menjadi pemilik si Pemodal Rakus.

Menengok keluar dari jendela hotel tempatku menginap, Aku tertegun menyaksikan dari jauh; di tengah sawah hijau itu seekor burung bangau gelisah mencari mengais diantara batang padi entah kodok atau serangga. Hanya sendiri.... Lalu lima atau enam ekor burung emprit yang asyik becanda diantara julur julur batang padi tak jauh dari bangau yang sendirian.

Keesokan pagi. Menjelang terbit matahari dari timur. Aku menengok lagi ke luar jendela. Ke tengah hijau hamparan sawah itu. Burung-burung emprit bernyanyi. Bangau tak lagi sendiri. Dari pinggiran sawah, berdiri "si petani" pemilik tanaman padi. (Entah apakah dia juga masih menjadi pemilik tanah tempat padi itu tumbuh??)

Si Petani menarik-narik seutas tali panjang yang diberi potongan rumbai-rumbai dari plastik, membentang diantara dua sisi sawah itu, berjejer dalam jarak antara sepuluh meter. Sambil dari mulutnya melengking suara, bermaksud menghela gerombolan emprit dan bangau yang tengah berpesta di sanĂ .

Emprit dan bangau tak peduli. Mereka menyingkir dari satu titik dan hinggap ke sudut lain. Si Petani pindah bergeser ke tempat lain, menarik narik lagi seutas tali.. emprit dan bangau menyingkir lalu hinggap di sudut yang lain. Begitu seterusnya, sampai matahari meninggi, si petani pulang ke rumah, mandi, sarapan, lalu pergi meninggalkan rumah dan sawah, menitipkan perlindungan sawah itu pada Tuhan.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Labuan Bajo

       Entah darimana isteriku dapat wangsit. T iba-tiba dia membuat rencana hendak   bepergian jauh: ke Labuan Bajo. Niatnya ini dia utarakan padaku, kira-kira tiga bulan sebelum keberangkatan kami.; “Kita akan ke Labuan Bajo   di musim liburan anak-anak nanti.” Tekadnya untuk pergi kian bulat, sebulat telur penyu. Dia rajin melihat review-review di kanal youtube dan medsos lainnya untuk mendapatkan kiat-kiat menempuh perjalanan jauh itu. Aku sendiri tidak pernah terpikir akan jalan-jalan ke sana. Jangankan ke Labuan Bajo, ke pulau tetangga (Sumbawa) saja saya belum pernah injakkan kaki. Sejauh ini, pemandangan di wilayah bagian timur Indonesia hanya saya saksikan secara intens dari menonton film-film Ekspedisi Indonesia Biru garapan dua jurnalis, Bung Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz alias Ucok.  Keduanya melakukan perjalanan keliling Nusantara di tahun 2015 silam, cumak bermodal honda bebek, tapi dengan hasil gambar-gambar video yang kemudia...

Larantuka

Plakat Istana Larantuka / foto sam Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk sampai ke Ende. Pertama, dengan kapal laut yang bertolak dari Surabaya. Kedua, dengan kapal laut yang sama yang bertolak dari Lombok.  Keduanya sama-sama pilihan yang ambigu.  Setelah berdiskusi, akhirnya kami ambil opsi kedua; bertolak dari Gilimas Lombok. Itu artinya, kami harus menyeberang ke Lombok dulu dari Padangbay menuju Lembar. 10 Juni Perjalanan dari rumah kami di Jembrana Bali, dimulai pada jam 2 siang, tanggal 10 Juni 2025, hari Selasa, bertepatan tanggal 14 Dzulhijjah 1446 tahun hijriyah.  Kendaraan masih Toyota Rush Konde legendaris yang sudah hampir dua belas tahun menemani perjalanan kami.  Persiapan terkait kendaraan ini sudah Aku cukupi. Mulai dari servis berkala, penggantian oli mesin, ganti bearings (klaher) di bagian roda depan kiri, perbaikan seal rem yang rusak, hingga penggantian empat buah ban roda.  Kali ini Aku coba pakai GT Savero untuk mengganti merk ban asli D...

Dari Gresik Sampai Tuban, Jalan-jalan Jelang Lebaran

Pukul 23.00, bus yang membawa saya dari Jogja tiba di Surabaya. Arus mudik di jalur bagian tengah pulau Jawa tidak terlalu besar. Jarang sekali saya jumpai kemacetan. Perjalanan ditempuh menurut lama waktu normal; 8 jam. Di Surabaya, saya dan kawan Tatok, seorang kawan lama yang bersama saya dalam perjalanan mudik ini, menginap di sebuah asrama di belakang kampus IAIN Ampel. Saya hanya sempat beristirahat 4 jam, sebelum pada jam 7 keesokan paginya, saya dan kawan Tatok melanjutkan perjalanan ke barat menuju kota Gresik. Jalan-jalan di pasar Gresik Kebetulan kawan Tatok dititipi pesan seorang sepupunya yang tengah nyidam pudak. Dia diminta untuk membeli pudak, sejenis penganan khas kota Gresik. Konon, kata saudara sepupu kawan Tatok, di usia kehamilan yang baru menginjak beberapa hari, dia selalu membayangkan pudak. Maklum, orang nyidam punya keinginan yang aneh-aneh. Jadilah kami mampir di pasar Gresik untuk membeli pudak. Tiga hari menjelang lebaran, keadaan di pasar Gresik sangat ram...