Langsung ke konten utama

Yang Memandang Dari Sudut Eropa

Souad, nama tokoh dalam novel otobiografis, Burned alive, mengakhiri tulisannya dengan "Di suatu tempat di Eropa."

Setelah selesai membaca novel itu, saya berusaha mencari informasi lebih lanjut tentang beberapa hal yang ingin saya ketahui; tentang Souad yang ternyata (tentu saja) hanya nama samaran. Terre des Hommes (Bumi Manusia), organisasi kemanusiaan yang berdiri sejak tahun 1965 di Belanda, tempat Jaqueline, penyelamat jiwa Souad, bekerja.

Souad adalah perempuan yang lolos dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh saudara iparnya, Hussein atas rencana kedua orang tua Souad sendiri. Ia hendak dibunuh lantaran diketahui hamil setelah menjalin hubungan cinta dengan seorang pemuda, Faiez.

Ia dibunuh dengan cara yang keji; cairan premium dialirkan di atas rambut kepalanya. Percikan api dari geretan membakar rambut dan pakaian, hingga separuh tubuhnya melepuh. Beruntung Souad masih punya nyali meneyelamatkan diri. Ia berlari dalam kobaran api yang membakar tubuhnya. Ia selamat.

Saya membaca novel ini dengan perasaan ngeri. Terutama karena kejadian ini terjadi dalam abad yang sangat maju. Akan tetapi, kemajuan yang melanda seluruh dunia, belum sepenuhnya sampai hingga ke sudut-sudut terpencil, termasuk di bagian desa Tepi Barat, Palestina, tanah kelahiran Souad.

Di desa itu, adat masih berlaku. Tradisi dipertahankan. Sayangnya, tradisi yang masih berdiri tegak itu hanya memihak kepada salah satu jenis kelamin; Laki-laki, dan mendiskreditkan jenis kelamin lainnya; Perempuan.

Di desa itu, laki-laki diagungkan, diberi kebebasan yang luas. Sebaliknya dengan perempuan. Mereka terkurung. Bahkan kelahiran mereka sendiri dianggap aib, ketika seorang ibu dalam sebuah keluarga tidak sanggup melahirkan anak laki-laki.

Di desa itu, perempuan diperlakukan seperti binatang. Perempuan berhak dipukuli, dijambak, bahkan dibunuh. Membunuh perempuan dianggap sebuah kehormatan. Saya teringat dengan tarikh tentang tradisi zaman jahiliyah Arab, seribu lima ratus tahun silam. Karena dianggap cemar, kelahiran anak perempuan tidak dikehendaki. Jikapun mereka terlahir, mereka akan segera dikembalikan ke bumi, mereka dikubur hidup-hidup. Demi kehormatan.

Sekali lagi, saya membaca novel itu dengan perasaan ngeri. Saya menaruh simpati kepada Souad, perempuan korban kekerasan itu. Tapi entahlah, saya tidak menaruh perasaan simpati kepada novel itu.

Saya tahu novel itu ditulis atas dasar kesaksian Souad. Atau barangkali Souadlah yang menulis dengan tangannya sendiri. Souad menulisnya dari sebuah sudut pandang yang berbeda dari tempat dimana ia dilahirkan. Souad menulisnya berdasarkan kesadarannya sebagai bagian dari "Eropa". Ia merasa telah menjadi Eropa; terutama pikirannya.

Ketika ia berada dalam posisi ini, ia menyaksikan jauh ke seberang, tanah kelahirannya di Tepi Barat, di mana dahulu ia nyaris menemui ajal, lantaran melanggar aturan tradisi (agama). Souad masih menyaksikan ada bara api di sana. Ada neraka di tanah kelahirannya yang sewaktu-waktu dapat membakar setiap perempuan seperti dirinya. Souad mengecam dan membenci tradisi itu. Ia bermaksud memadamkan neraka itu. Karenanya dia menulis kisahnya sendiri, Burned alive.

Kini Souad telah jadi bagian dari Eropa. Ia tinggal di Swiss, belajar bahasa Prancis, menikah dengan seorang keturunan Itali, Antonio. Souad menuturkan kisahnya dengan runut, fasih, mendebarkan, dan barangkali tak jarang membuat haru banyak pembaca di separuh dunia (Novel ini diterjemahkan ke dalam 28 bahasa).

Saya menaruh simpati kepada Souad. Tapi saya tidak bisa menaruh simpati kepada novel itu. Dari novel itu saya melihat ada spirit "Eropanisme" yang terus memancangkan superioritas atas dunia-dunia yang lain (the others) yang jauh di luarnya, terutama Timur Tengah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Labuan Bajo

       Entah darimana isteriku dapat wangsit. T iba-tiba dia membuat rencana hendak   bepergian jauh: ke Labuan Bajo. Niatnya ini dia utarakan padaku, kira-kira tiga bulan sebelum keberangkatan kami.; “Kita akan ke Labuan Bajo   di musim liburan anak-anak nanti.” Tekadnya untuk pergi kian bulat, sebulat telur penyu. Dia rajin melihat review-review di kanal youtube dan medsos lainnya untuk mendapatkan kiat-kiat menempuh perjalanan jauh itu. Aku sendiri tidak pernah terpikir akan jalan-jalan ke sana. Jangankan ke Labuan Bajo, ke pulau tetangga (Sumbawa) saja saya belum pernah injakkan kaki. Sejauh ini, pemandangan di wilayah bagian timur Indonesia hanya saya saksikan secara intens dari menonton film-film Ekspedisi Indonesia Biru garapan dua jurnalis, Bung Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz alias Ucok.  Keduanya melakukan perjalanan keliling Nusantara di tahun 2015 silam, cumak bermodal honda bebek, tapi dengan hasil gambar-gambar video yang kemudia...

Larantuka

Plakat Istana Larantuka / foto sam Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk sampai ke Ende. Pertama, dengan kapal laut yang bertolak dari Surabaya. Kedua, dengan kapal laut yang sama yang bertolak dari Lombok.  Keduanya sama-sama pilihan yang ambigu.  Setelah berdiskusi, akhirnya kami ambil opsi kedua; bertolak dari Gilimas Lombok. Itu artinya, kami harus menyeberang ke Lombok dulu dari Padangbay menuju Lembar. 10 Juni Perjalanan dari rumah kami di Jembrana Bali, dimulai pada jam 2 siang, tanggal 10 Juni 2025, hari Selasa, bertepatan tanggal 14 Dzulhijjah 1446 tahun hijriyah.  Kendaraan masih Toyota Rush Konde legendaris yang sudah hampir dua belas tahun menemani perjalanan kami.  Persiapan terkait kendaraan ini sudah Aku cukupi. Mulai dari servis berkala, penggantian oli mesin, ganti bearings (klaher) di bagian roda depan kiri, perbaikan seal rem yang rusak, hingga penggantian empat buah ban roda.  Kali ini Aku coba pakai GT Savero untuk mengganti merk ban asli D...

Dari Gresik Sampai Tuban, Jalan-jalan Jelang Lebaran

Pukul 23.00, bus yang membawa saya dari Jogja tiba di Surabaya. Arus mudik di jalur bagian tengah pulau Jawa tidak terlalu besar. Jarang sekali saya jumpai kemacetan. Perjalanan ditempuh menurut lama waktu normal; 8 jam. Di Surabaya, saya dan kawan Tatok, seorang kawan lama yang bersama saya dalam perjalanan mudik ini, menginap di sebuah asrama di belakang kampus IAIN Ampel. Saya hanya sempat beristirahat 4 jam, sebelum pada jam 7 keesokan paginya, saya dan kawan Tatok melanjutkan perjalanan ke barat menuju kota Gresik. Jalan-jalan di pasar Gresik Kebetulan kawan Tatok dititipi pesan seorang sepupunya yang tengah nyidam pudak. Dia diminta untuk membeli pudak, sejenis penganan khas kota Gresik. Konon, kata saudara sepupu kawan Tatok, di usia kehamilan yang baru menginjak beberapa hari, dia selalu membayangkan pudak. Maklum, orang nyidam punya keinginan yang aneh-aneh. Jadilah kami mampir di pasar Gresik untuk membeli pudak. Tiga hari menjelang lebaran, keadaan di pasar Gresik sangat ram...